BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pasang surut adalah naik atau turunnya posisi
permukaan perairan atau samudera yang disebabkan oleh pengaruh gaya
gravitasi bulan dan matahari. Ada tiga sumber gaya yang saling
berinteraksi: laut, matahari, dan bulan. Pasang laut menyebabkan perubahan kedalaman
perairan dan mengakibatkan arus pusaran yang dikenal sebagai arus pasang,
sehingga perkiraan kejadian pasang sangat diperlukan dalam navigasi pantai.
Wilayah pantai yang terbenam sewaktu pasang naik dan terpapar sewaktu pasang
surut, disebut mintakat pasang, dikenal sebagai wilayah ekologi laut yang
khas. Periode pasang laut adalah waktu antara puncak atau lembah
gelombang ke puncak atau lembah gelombang berikutnya. Panjang periode pasang
surut bervariasi antara 12 jam 25 menit hingga 24 jam 50 menit. Dalam sebulan,
variasi harian dari rentang pasang laut berubah secara sistematis
terhadap siklus bulan.
Rentang pasang laut juga bergantung pada bentuk perairan dan konfigurasi lantai samudera.
Pasang surut laut merupakan hasil
dari gaya
gravitasi dan
efek sentrifugal. Efek sentrifugal adalah dorongan ke arah
luar pusat rotasi (bumi). Gravitasi bervariasi secara langsung dengan massa tetapi
berbanding terbalik terhadap jarak. Meskipun ukuran bulan lebih kecil dari
matahari, namun gaya gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada gaya tarik
matahari dalam membangkitkan pasang surut laut karena jarak bulan lebih dekat
daripada jarak matahari ke bumi. Gaya gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan
matahari dan menghasilkan dua tonjolan pasang surut gravitasional di laut.
Lintang dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh deklinasi, sudut antara sumbu rotasi bumi dan bidang orbital bulan
dan matahari .
Pasang laut purnama (spring tide)
terjadi ketika bumi, bulan dan matahari berada dalam suatu garis lurus. Pada
saat itu akan dihasilkan pasang naik yang sangat tinggi dan pasang surut yang
sangat rendah. Pasang laut purnama ini terjadi pada saat bulan baru dan bulan purnama. Pasang laut perbani (neap tide)
terjadi ketika bumi, bulan dan matahari membentuk sudut tegak lurus. Pada saat
itu akan dihasilkan pasang naik yang rendah dan pasang surut yang tinggi.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari
dilaksanakannnya praktikum Pengantar Oseanografi mengenai pasang surut air laut
adalah:
Mahasiswa dapat
melakukan pengukuran pasang surut dengan papan skala (Tide Staff) dan
menentukan tipe pasang surut berdasarkan grafik pasang surut.
Mahasiswa dapat
mengetahui jenis-jenis pasang surut berdasarkan konstantanya.
Mahasiswa dapat
mengetahui dan menghitung beberapa kondisi muka air.
1.3 Manfaat
Manfaat dilaksanakan praktikum
pengantar oseanografi mengenai pasang surut air laut ini sebagai berikut :
Mampu mempersiapkan alat
pengukur pasang surut.
Mampu melakukan
pengukuran pasang surut, memplotkan data pasang surut dan mengklasifikasi tipe
pasang surut.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pasang surut laut
merupakan suatu fenomena pergerakan naik turunnya permukaan air laut secara
berkala yang diakibatkan oleh kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik menarik
dari benda-benda astronomi terutama oleh matahari, bumi dan bulan. Pengaruh
benda angkasa lainnya dapat diabaikan karena jaraknya lebih jauh atau ukurannya
lebih kecil. Faktor non
astronomi yang mempengaruhi pasut terutama di perairan semi tertutup seperti
teluk adalah bentuk garis pantai dan topografi dasar perairan. Puncak gelombang
disebut pasang tinggi dan lembah gelombang disebut pasang
rendah. Perbedaan vertikal antara pasang tinggi dan pasang rendah disebut
rentang pasang surut (tidal range). Periode pasang surut
adalah waktu antara puncak atau lembah gelombang ke puncak atau lembah
gelombang berikutnya. Harga periode pasang surut bervariasi antara 12 jam 25
menit hingga 24 jam 50 menit (Anonim, 2010: 1).
Pasang purnama (spring tide) terjadi ketika bumi, bulan dan matahari berada
dalam suatu garis lurus. Pada saat itu akan dihasilkan pasang tinggi yang
sangat tinggi dan pasang rendah yang sangat rendah. Pasang surut purnama ini
terjadi pada saat bulan baru dan bulan purnama. Pasang perbani (neap tide) terjadi ketika bumi, bulan dan
matahari membentuk sudut tegak lurus. Pada saat itu akan dihasilkan pasang
tinggi yang rendah dan pasang rendah yang tinggi. Pasang surut perbani ini
terjadi pasa saat bulan 1/4 dan 3/4. Pasang surut laut adalah gelombang yang dibangkitkan oleh adanya
interaksi antara laut, matahari dan bulan. Pada dasarnya, pasang surut (tidal
range) merupakan perbedaan vertikal
antara pasang tinggi dan pasang rendah .
Pasang surut laut merupakan hasil dari gaya
tarik gravitasi dan efek sentrifugal. Efek sentrifugal adalah dorongan ke arah
luar pusat rotasi. Meskipun ukuran bulan lebih kecil dari matahari, gaya tarik
gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada gaya tarik matahari dalam
membangkitkan pasang surut laut karena jarak bulan lebih dekat daripada jarak
matahari ke bumi. Gaya tarik gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan
matahari dan menghasilkan dua tonjolan (bulge) pasang surut
gravitasional di laut. Lintang dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh
deklinasi, sudut antara sumbu rotasi bumi dan bidang orbital bulan dan
matahari. Pasang surut air laut adalah suatu gejala fisik yang selalu berulang
dengan periode tertentu dan pengaruhnya dapat dirasakan sampai jauh masuk
kearah hulu dari muara sungai. Pasang surut terjadi karena adanya gerakan dari
benda benda angkasa yaitu rotasi bumi pada sumbunya, peredaran bulan
mengelilingi bumi dan peredaran bulan mengelilingi matahari. Gerakan tersebut
berlangsung dengan teratur mengikuti suatu garis edar dan periode yang
tertentu. Pengaruh dari benda angkasa yang lainnya sangat kecil dan tidak perlu
diperhitungkan.
Gerakan dari benda angkasa tersebut di atas
akan mengakibatkan terjadinya beberapa macam gaya pada setiap titik di bumi
ini,yang disebut gaya pembangkit pasang surut. Masing masing gaya akan
memberikan pengaruh pada pasang surut dan disebut komponen pasang surut, dan
gaya tersebut berasal dari pengaruh matahari, bulan atau kombinasi keduanya.
Pasang surut laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan efek
sentrifugal. Efek sentrifugal adalah dorongan ke arah luar pusat rotasi.
Gravitasi bervariasi secara langsung dengan massa tetapi berbanding terbalik
terhadap jarak. Meskipun ukuran bulan lebih kecil dari matahari, gaya tarik
gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada gaya tarik matahari dalam
membangkitkan pasang surut laut. Gaya tarik gravitasi menarik air laut ke arah
bulan dan matahari dan menghasilkan dua tonjolan (bulge) pasang surut
gravitasional di laut. Lintang dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh
deklinasi, sudut antara sumbu rotasi bumi dan bidang orbital bulan dan matahari.
Untuk menjelaskan terjadinya pasang surut
maka mula-mula dianggap bahwa bumi benar-benar bulat serta seluruh permukaannya
ditutupi oleh lapisan air laut yang sama tebalnya sehingga didalam hal ini
dapat diterapkan teori keseimbangan. Pada setiap titik dimuka bumi akan terjadi
pasang surut yang merupakan kombinasi dari beberapa komponen yang mempunyai
amplitudo dan kecepatan sudut yang tertentu sesuai dengan gaya pembangkitnya.
Pada keadaan sebenarnya bumi tidak semuanya ditutupi oleh air laut melainkan sebagian
merupakan daratan dan juga kedalaman laut berbeda beda. Sebagai konsekwensi
dari teori keseimbangan maka pasang surut akan terdiri dari beberapa komponen
yang mempunyai kecepatan amplitudo dan kecepatan sudut tertentu, sama besarnya
seperti yang diuraikan pada teori keseimbangan (Anonim, 2010: 1).
Teori Pasang Surut
1. Teori Kesetimbangan (Equilibrium Theory)
Teori kesetimbangan pertama kali
diperkenalkan oleh Sir Isaac Newton (1642-1727). Teori ini menerangkan
sifat-sifat pasut secara kualitatif. Teori terjadi pada bumi ideal yang
seluruh permukaannya ditutupi oleh air dan pengaruh kelembaman (Inertia) diabaikan.
Teori ini menyatakan bahwa naik-turunnya permukaan laut sebanding dengan gaya pembangkit pasang surut (King, 1966).
Untuk memahami gaya pembangkit passng surut dilakukan dengan memisahkan
pergerakan sistem bumi-bulan-matahari menjadi 2 yaitu, sistem bumi-bulan dan
sistem bumi matahari. Pada teori kesetimbangan bumi diasumsikan tertutup air
dengan kedalaman dan densitas yang sama dan naik turun muka laut sebanding dengan gaya pembangkit pasang surut atau GPP (Tide
Generating Force) yaitu Resultante gaya tarik bulan dan gaya sentrifugal,
teori ini berkaitan dengan hubungan antara laut, massa air yang naik, bulan, dan matahari .
2. Teori
Pasut Dinamik (Dynamical Theory)
Gelombang pasut yang terbentuk dipengaruhi
oleh GPP, kedalaman dan luas perairan, pengaruh rotasi bumi, dan pengaruh
gesekan dasar. Teori ini pertama kali dikembangkan oleh Laplace (1796-1825).
Teori ini melengkapi teori kesetimbangan sehingga sifat-sifat pasut dapat diketahui
secara kuantitatif. Menurut teori dinamis, gaya pembangkit pasut
menghasilkan gelombang pasut (tide wive) yang periodenya sebanding
dengan gaya pembangkit pasut. Karena terbentuknya gelombang, maka
terdapat faktor lain yang perlu diperhitungkan selain GPP. Menurut Defant
(1958), faktor-faktor tersebut adalah :
· Kedalaman
perairan dan luas perairan
· Pengaruh
rotasi bumi (gaya Coriolis)
· Gesekan
dasar
Rotasi bumi menyebabkan semua benda yang
bergerak di permukaan bumi akan berubah arah (Coriolis Effect). Di
belahan bumi utara benda membelok ke kanan, sedangkan di belahan bumi selatan
benda membelok ke kiri. Pengaruh ini tidak terjadi di equator, tetapi
semakin meningkat sejalan dengan garis lintang dan mencapai maksimum pada kedua
kutub. Besarnya juga bervariasi tergantung pada kecepatan pergerakan
benda tersebut .
· Tide
Staff.
Alat ini berupa papan yang telah diberi skala
dalam meter atau centi meter. Biasanya digunakan pada pengukuran pasang
surut di lapangan.Tide Staff (papan Pasut) merupakan alat pengukur pasut paling
sederhana yang umumnya digunakan untuk mengamati ketinggian muka laut atau tinggi gelombang air laut. Bahan yang digunakan biasanya terbuat dari kayu, alumunium atau
bahan lain yang di cat anti karat.
· Tide
gauge.
Merupakan perangkat untuk mengukur perubahan
muka laut secara mekanik dan otomatis. Alat ini memiliki sensor yang
dapat mengukur ketinggian permukaan air laut yang kemudian direkam ke dalam komputer. Tide gauge terdiri
dari dua jenis yaitu :
ü Floating tide gauge (self
registering): Prinsip kerja alat ini berdasarkan naik turunnya
permukaan air laut yang dapat diketahui melalui pelampung yang dihubungkan dengan
alat pencatat (recording unit). Pengamatan pasut dengan alat ini
banyak dilakukan, namun yang lebih banyak dipakai adalah dengan cara rambu
pasut.
ü Pressure tide gauge (self
registering): Prinsip kerja pressure tide gauge hampir sama dengan
floating tide gauge, namun perubahan naik-turunnya air laut direkam melalui perubahan tekanan pada dasar laut yang dihubungkan dengan alat pencatat (recording unit).
Alat ini dipasang sedemikian rupa sehingga selalu berada di bawah permukaan
air laut tersurut, namun alat ini jarang sekali dipakai untuk pengamatan
pasang surut .
3.Satelit.
Sistem satelit altimetri berkembang sejak tahun 1975
saat diluncurkannya sistem satelit Geos-3. Pada saat ini secara umum
sistem satelit altimetri mempunyai tiga objektif
ilmiah jangka panjang yaitu mengamati sirkulasi lautan global, memantau volume
dari lempengan es kutub, dan mengamati perubahan muka laut rata-rata (MSL) global. Prinsip Dasar SatelitAltimetri adalah satelit altimetri dilengkapi dengan pemancar
pulsa radar (transmiter), penerima pulsa radar yang sensitif (receiver),
serta jam berakurasi tinggi. Pada sistem ini, altimeter radar yang dibawa
oleh satelitmemancarkan pulsa-pulsa gelombang
elektromagnetik (radar) kepermukaan laut. Pulsa-pulsa tersebut dipantulkan balik oleh permukaan laut dan diterima kembali oleh satelit .
BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Adapun pelaksanaan
praktikum Pengantar Osenaografi dengan judul PASANG SURUT ini dilaksanakan
pada hari Senin,28 november 2016 pukul 14.00 – 8.00 WITA
bertempat di desa lawallu kec.soppeng riaja kab.barru, Program studi Budidaya
Perairan, Fakultas PERTANIAN, Universitas muhammadiyah makassar.
3.2 Alat dan Bahan
1. patot
skala
2. Penggaris
3. kertas
Hvs
3.3 Cara Kerja
Adapun cara kerja dari praktikum Pasang Surut ini adalah:
1.
Pertama
kami lakukan pembentangan meter dari permukaan/darat kelaut sepanjang 50 M
2.
Lalu
kami temple/pasangkan patotskala sampai patotskala itu ke dasar laut
3.
kami
ikat baik baik agar pada saat gelombang dan arus menghantam patot skala tidak
akan goyang .
BAB IV
HASIL & PEMBAHASAN
1. hasil
a. pada jam 14:00
psang surut air laut setinggi 12 CM
b. pada jam 15:00
pasang surut air laut setinggi 168 CM
c. pada jam 16:00 pasang surut air laut setinggi 209 CM
d. pada jam 17:00 pasang surut air laut
setinggi 230 CM
e. pada jam 18:00 pasang surut air laut
setinggi 234 CM
f. pada jam 19:00 pasang surut air laut
setinggi 205 CM
g. pada jam 20:00 pasang surut air laut setinggi
190 CM
h. pada jam 21:00 pasang surut air laut
setinggi 174 CM
i. pada jam 22:00 pasang surut air laut
setinggi 145 CM
j. pada jam 23:00 pasang surut air laut
setinggi 133 CM
k. pada jam 24:00 pasang surut air laut
setinggi 130 CM
l. pada jam 01:00 pasang surut air laut setinggi
127 CM
m. pada jam 02:00 pasang surut air laut setinggi
128 CM
n. pada jam 03:00 pasang surut air laut setinggi
134 CM
o. pada jam 04:00 pasang surut air laut
setinggi 139 CM
p. pada jam 05:00 pasang surut air laut setinggi
143 CM
r. pada jam 06:00 pasang surut air laut
setinggi CM
s. pada jam 07:00 pasang surut air laut
setinggi 121 CM
t. pada jam 08:00 pasang surut air laut
setinggi 110 CM
2. Pembahasan
Pasang surut laut merupakan emhasil dari gaya
tarik gravitasi dan efek sentrifugal. Efek sentrifugal adalah dorongan ke arah
luar pusat rotasi. Meskipun ukuran bulan lebih kecil dari matahari, gaya tarik
gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada gaya tarik matahari dalam
membangkitkan pasang surut laut karena jarak bulan lebih dekat daripada jarak
matahari ke bumi. Gaya tarik gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan
matahari dan menghasilkan dua tonjolan (bulge) pasang surut
gravitasional di laut.
Lintang dari tonjolan pasang surut ditentukan
oleh deklinasi, sudut antara sumbu rotasi bumi dan bidang orbital bulan dan
matahari. Pasang surut air laut adalah suatu gejala fisik yang selalu berulang
dengan periode tertentu dan pengaruhnya dapat dirasakan sampai jauh masuk
kearah hulu dari muara sungai. Pasang surut terjadi karena adanya gerakan
dari benda benda angkasa yaitu rotasi bumi pada sumbunya. Gerakan tersebut
berlangsung dengan teratur mengikuti suatu garis edar dan periode yang
tertentu. Pengaruh dari benda angkasa yang lainnya sangat kecil dan tidak perlu
diperhitungkan maupun dianalisis.
Pasang
laut adalah naik atau turunnya posisi permukaan perairan atau samudera yang disebabkan oleh pengaruh gaya
gravitasi bulan dan matahari.
Ada tiga sumber gaya yang saling
berinteraksi: laut, matahari, dan bulan. Pasang laut menyebabkan perubahan kedalaman
perairan dan mengakibatkan arus pusaran yang dikenal sebagai arus pasang,
sehingga perkiraan kejadian pasang sangat diperlukan dalam navigasi pantai.
Wilayah pantai yang terbenam sewaktu pasang naik dan terpapar sewaktu pasang
surut, disebut mintakat pasang, dikenal sebagai wilayah ekologi laut yang khas. Periode pasang laut adalah waktu antara puncak atau lembah
gelombang ke puncak atau lembah gelombang berikutnya. Panjang periode pasang
surut bervariasi antara 12 jam 25 menit hingga 24 jam 50 menit.
Dalam penelitian lebih lanjut diketahui bahwa
untuk setiap tempat yang mengalami pasang surut mempunyai ciri tertentu yaitu
besar pengaruh dari tiap-tiap komponen selalu tetap dan hal ini disebut tetapan
pasang surut. Selama tidak terjadi perubahan pada keadaan geografinya, tetapan.
tersebut tidak akan berubah. Apabila tetapan pasang surut untuk suatu tempat
tertentu sudah diketahui maka besar pasang surut untuk setiap waktu dapat
diramalkan. Gaya tarik gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan
matahari dan menghasilkan dua tonjolan (bulge) pasang surut
gravitasional di laut. Lintang dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh
deklinasi, sudut antara sumbu rotasi bumi dan bidang orbital bulan dan matahari
.
Perbedaan vertikal antara pasang tinggi dan
pasang rendah disebut rentang pasang surut (tidal range). Periode
pasang surut adalah waktu antara puncak atau lembah gelombang ke puncak atau
lembah gelombang berikutnya. Periode pasang laut adalah waktu antara puncak
atau lembah gelombang ke puncak atau lembah gelombang berikutnya. Dalam
menentukan dan melakukan pasang surut, dilakukan secara visual dengan
menggunakan papan skala (tide staff) dan alat ukur pasut (tide gauge).
Variasi muka air
menimbulkan arus yang disebut dengan arus pasang surut, yang mengangkut massa
air dalam jumlah sangat besar. Arus pasang terjadi pada waktu periode pasang
dan arus surut terjadi pada periode air surut. Titik balik (slack) adalah saat
dimana arus berbalik antara arus pasang dan arus surut. Titik balik ini bisa terjadi
pada saat muka air tertinggi dan muka air terendah. Pada saat tersebut
kecepatan arus adalah nol. Bentuk pasang surut di berbagai daerah tidak
sama.
Dalam sebulan, variasi harian dari rentang
pasang laut berubah secara sistematis terhadap siklus bulan.
Rentang pasang laut juga bergantung pada bentuk perairan dan konfigurasi lantai samudera. Adanya
gaya tarik bumi dan benda langit (bulan dan matahari), gaya gravitasi bumi,
perputaran bumi pada sumbunya dan perputaran bumi mengelilingi matahari
menimbulkan pergeseran air laut, salah satu akibatnya adalah terjadinya pasang
surut laut. Fenomena alam tersebut merupakan gerakan periodik, maka pasang
surut yang ditimbulkan dapat dihitung dan diprediksikan.
BAB V
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang didapat dari praktikum
ini meliputi :
1. Pasang
surut laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan efek sentrifugal.
2. Pasang
laut menyebabkan perubahan kedalaman perairan dan mengakibatkan arus pusaran
yang dikenal sebagai arus pasang, sehingga perkiraan kejadian pasang sangat
diperlukan dalam navigasi pantai.
3. Pasang
surut terjadi karena adanya gerakan dari benda benda angkasa yaitu rotasi bumi
pada sumbunya.
4. Dalam
sebulan, variasi harian dari rentang pasang laut berubah secara sistematis terhadap siklus bulan. Rentang pasang laut juga bergantung pada
bentuk perairan dan konfigurasi lantai samudera.
5. Panjang
periode pasang surut bervariasi antara 12 jam 25 menit hingga 24 jam 50 menit.
DAFTAR PUSTAKA
Assalamu'alaikum Wr wb. Mas Arhan Aan, Saya tertarik artikel Anda. Saya mohon ijin sebagian akan saya jadikan referensi dalam saya mengajarkan kepada Taruna Sekolah Tinggi - Jakarta.
BalasHapusSalam, Irawan Muripto 120119