Rabu, 28 Desember 2016

bagan dan rumpon

Bagan Apung yang terapung-apung
https://ataplaut.files.wordpress.com/2012/06/bagan-apung-landscape-rez.jpg?w=610
Teluk mutiara
Setiap naik kapal penumpang antar pulau di Alor, saya sering berpapasan dengan salah satu alat tangkap pasif seperti gambar diatas. Orang Indonesia umumnya menyebut sebagai Bagan apung atau bagan rakit, sejujurnya agak menutupi jalur pelayaran didalam teluk Kalabahi ketika jumlah pemasangannya semakin banyak. Saya penasaran untuk mencari lebih banyak informasi terkait Bagan apung.  Setengah hari browshing sana baca sini, berikut ulasan mengenai bagan apung.
Bagan merupakan alat tangkap pasif namun ada beberapa jenis variannya menurut saya semi aktif.  Dibilang pasif karena cara pengoperasian alat tangkap ini tetap diwiayah yang sama yaitu dengan bagan tancap cara kerjanya menjebak atau lebih tepatnya memanfaatkan tingkah laku biota laut yang suka sekali dengan cahaya (fototaksis) dengan memanfaatkan lampu bohlam plus serangkaian genset atau petromak jika mau lebih irit, sedangkan bagan jenis yaitu bagan apung, kontruksinya mirip dengan bagan tancap saja tidak kontruksi bagian bawahnya adalah kapal, sehingga lebih leluasa berpindah dalam mencari ikan targetnya, cara kerjanya sama persis dengan bagan tancap. Well, bisa dikatakan bagan ini juga tergolong lift net atau jaring angkat. Bentuk bagian yang mengapung boleh apapun yang penting mengapung, namun prinsipnya menurut saya hanya terdiri dari 2 keyword saja untuk pengoperasiannya; Cahaya dan jaring angkat.
Bagan apung_Alor bagan perahu_Flotim
Bagan tancap
Gambar 1. Bagan apung di Teluk Mutiara Alor (1), bagan apung di pulau Adonara Flores Timur (2) dan bagan tancap di tanjung redeb, Berau (3)
Bagan apung yang saya temui di Alor tidak menggunakan kapal tapi tetap saja bisa leluasa dipindah, karena menggunakan dirigen plastik atau streofoam untuk mengapung. Persis sekali seperti keramba jaring apung (KJA) dalam skala lebih besar tentunya.  Pengoperasiannya seperti dijelaskan sebelumnya menggunakan cahaya, seperti dijabarkan oleh Ayodhyoa (1981) dalam buku tingkah laku ikan yang saya berkumpul dibawah sinar cahaya dibedakan menjadi 2 kelompok. Kelompok yang memiliki sifat phototaksis positif, sedangkan yang kedua kelompok ikan yang mencari makanan (Feeding) di sekitar cahaya seperti plankton dan ikan-ikan kecil.
Pada percobaan Mitsugi (1974) mememukan beberapa kelompok ikan yang tertarik dan tidak tertarik dengan cahaya, yaitu :
  1. Ikan yang tertarik oleh cahaya (Fototaksis), antara lain : mackerel, sardin, cumi-cumi dan baracuda
  2. Ikan yang kurang tertarik oleh cahaya, antara lain : Ekor kuning (Caesionidae), Tuna dan Salmon
  3. Ikan yang takut oleh cahaya (photohobia) , antara lain : belut, kepiting, dan gurita
Berdasarkan hal tersebut tidak heran target jenis ikan yang umumnya didapat adalah teri (Stolephorus sp.) dan rebon (Mysis sp) sedangkan Hasil tangkapan sampingannya berupa ikan embang (Clupea sp.), layur (Trichiurus sp.), kembung (Rastrelliger sp.), selar (Caranx sp.), cumi-cumi (Loligo sp.) dan sotong (Sephia sp.) (Monintja dan Martasuganda 1991).
Kemudian aada penelitian dari Prof. H. Sudirman tahun 2003 bahwa waktu penyalaan lampu pada bagan itu mempengaruhi hasil tangkapan loh. Berikut tabelnya :
Waktu Penyalaan lampu pada bagan
Waktu kedatangangan ikan dan jenis ikan yang datang di bawah flatform bagan
Jenis-jenies ikan
Waktu kedatangan ikan dibawah bagan (Menit)
18:10 PM
Ikan-ikan kecil (unidentify)
Ikan teri
Cumi-cumi
Half beak
Ikan Terbang
Ikan buntal
10151845
55
70
22:00 PM
Ikan-ikan kecil (unidentify)
Ikan teri
Cumi-cumi
Ikan Terbang, Ikan buntal
9152022
02:00 AM
Ikan-ikan kecil (unidentify)
Ikan teri
Cumi-cumi
91619
Tabel diatas berdasarkan pengamatan visual, jadi yang umumnya terlihat pada jenis ikan-ikan yang dipermukaan air yang teridentifikasi, kembung, layang, dan tembang umumnya dikedalaman 20-30 m, sedangkan ikan selar diluar catchable area.
Hasil penangkapan bagan apung di Alor umumnya didominasi oleh jenis ikan Melus yang dijual dipasar lokal kalabahi. Sedangkan mengenai target ikannya di kabupaten tetangga seperti Lembata dan Flores Timur bagan apungnya digunakan untuk menangkap ikan tembang, layang dan melus yang diperuntukkan bukan hanya untuk konsumsi lokal di pasar melainkan juga menjadi konsumsi ikan lain atau sebagai umpan hidup seperti Cakalang pada kapal Pole and line (huhatei) atau kapal pancing lainnnya untuk penangkapan tuna. Jadi umpan yang didapatkan diusahakan tetap kondisi hidup dan fit hingga dijemput kapal pembeli tersebut. Harganya berbeda ketika dijual dalam kondisi fresh dan hidup, teridentifikasi tembang dalam kondisi hidup per ember berkisar 60-90 kg dihargai Rp.100.000/ember atau sekitar 5000 ekor tembang. Rata-rata 1 trip ketika musim puncak bisa mendapatkan 1500-2000 kg ikan tembang, musim sedang 1000-1500 kg dan musim apesnya mulai dari 50-300 kg, untuk jenis layang pada musim puncak 1000 kg, musim sedang 800kg dan paceklik 500kg, melus pada musim puncak 500 kg,  sedangkan jenis ikan melus pada musim puncak bisa menangkap 200-300kg/trip dan musim pacekliknya cukup puas dengan 60-100 kg.
Jadi sebagian besar nelayan dengan alat tangkap pole and line cukup bersimbiosis mutualisme dengan nelayan bagan apung ini dalam upaya peningkatan produksi perikanan cakalang dan tuna. keberadaan bagan apung sebagai penyedia umpan hidup mendorong efisiensi penangkapan Cakalang dan tuna. Seperti artikel sebelumnya mengenai huhatei, kecenderungan peningkatan produksi Cakalang dan tuna ini melalui penambahan armada yang diiringi dengan penambahan jumlah trip penangkapan. Permintaan umpan hidup juga meningkat dari bagan-bagan apung yang ada. Pastinya nelayan bagan apung semakin semangat untuk menambah tripnya. Kemudian bagaimana daya dukung stock umpan hidup tersebut?
Ekosistem bakau merupakan salah satu kunci dalam mempertahankan siklus reproduksi ikan-ikan tersebut, mempertahankan keanekaragaman dan luasan bakau perlu menjadi prioritas kebijakan perikanan didaerah tersebut. Kemudian diiringi dengan adanya mekanisme kebijakan yang tegas dalam pembatasan armada atau trip dari alat tangkap huhatei dan bagan apung tersebut. Sejujurnya biarlah mekanisme pasar yang akan menaikan harga jual ikan dikarenakan penangkapan cakalang dan tuna yang semakin terbatas, yang terpenting perikanan yang ada tidak terbatas J. YG
Narasumbernye :

B.S. Mulyono, Taurusman. A.A dan Sudirman. 2010. Tingkah Laku Ikan : Hubungannya dengan Ilmu dan Teknologi Perikanan Tangkap. Lubuk Agung. Bandung



   Deskripsi dan Spesifikasi Alat Bantu Penangkapan Ikan
Adapun alat bantu yang dipergunakan dalam pengoperasian alat tangkap purse seine adalah
a.       Rumpon
Rumponsebagaialatbantuuntukmenangkapikan yang dipasang di laut, baiklautdangkalmaupunlautdalamdapatmeningkatkanhasiltangkapan. Pemasangantersebutdimaksudkanuntukmenarikgerombolanikan agar berkumpuldisekitarrumpon, sehinggaikanmudahuntukditangkap.Denganpemasanganrumponmakakegiatanpenangkapan ikanakanmenjadilebihefektifdanefisienkarenatidaklagiberburuikan (denganmengikutiruayanya )tetapicukupmelakukankegiatanpenangkapanikandesekitarrumpontersebut.
Sebagaialatbantupenangkapanikan, rumponberfungsiuntukmengumpulkankelompokikan (ikan-ikanpelagiskecildanpelagisbesar) padasuatu area tertentusebalumdilakukanpenangkapan. Rumpon di  Indonesia telahdikenalsejakdulu yang dikenaldenganberbagaimacamistilahsepertiRabo (Sumater Barat), tendak (Jawa), rumpong (Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan) dantuasen (Sumatera Utara).
Rumpon perairan dalam sangat bermanfaat  bagi masyarakat nelayan maupun bagi kelestarian ekosistem perairan. Hal ini disebab karena teknologi rumpon laut dalam atau rumpon perairan ini memudahkan nelayan atau para penangkap ikan lainnya untuk dapat mengambil ikan yang berada pada kedalaman diatas 200 meter. Selain itu dengan adanya rumpon, kapal penangkap dapat menghemat waktu dan bahan bakar, karena tidak perlu lagi mencari dan mengejar gerombolan ikan dari dan menuju ke lokasi penangkapan.
Jenis-jenis Rumpon

Terdapat 3 jenis rumpon, yaitu:

  1. Rumpon Perairan Dasar adalah alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan pada dasar perairan laut.
  2. Rumpon Perairan Dangkal adalah alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan pada perairan   laut yang di pasang pada kedalaman 20-100 meter   untuk mengumpulkan jenis-jenis ikan pelagis kecl seperti : kembung,  selar,  tembang, japuh, layang dan lain sebagainya.
  3. Rumpon Perairan Dalam adalah alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan pada perairan laut dengan kedalaman diatas 200 meter.
Bahan dan Komponen Rumpon

           Setiap rumpon terdiri dari beberapa komponen. Di Indonesia rumpon masih menggunakan bahan alami seperti daun kelapa, tali plastik yang sudah pasti kekuatannya sangat terbatas. Tim Pengkajian Rumpon IPB (1987) mengemukakan bahwa persyaratan umum komponen dan konstruksi rumpon adalah sebagai berikut:

1.       Pelampung

 Sebagai alat pengapung yang dibuat dari besi plat yang dibentuk seperti tabung.

·      Mempunyai kemampuan mengapung yang cukup baik (bagian yang mengapung diatas air 1/3 bagian)
·      Konstruksi cukup kuat
·      Tahan terhadap gelombang dan air
·      Mudah dikenali dari jarak jauh
·      Bahan pembuatnya mudah didapat;
2.         Atraktor

          Merupakan pemikat yang bertujuan untuk memikat ikan disekeliling rumpon yang terbuat dari daun nyiur atau daun kelapa

·           Mempunyai daya pikat yang baik terhadap ikan
·           Tahan lama
·           Mempunyai bentuk seperti posisi potongan vertikal dengan arah ke bawah
·           Melindungi ikan-ikan kecil
·           Terbuat dan bahan yang kuat, tahan lama dan murah;
3.         Tali-temali

           Guna sebagai pengikat pelampung dan pemberat bahannya terbuat dari polyethylene kemudian ditambahkan kawat baja untuk mengikat atraktor supaya cepat tenggelam dan tidak mengapung.

·           Terbuat dan bahan yang kuat dan tidak mudah busuk
·           Harganya relatif murah, mempunyai daya apung yang cukup untuk mencegah gesekan terhadap benda-benda lainnya dan terhadap arus
·           Tidak bersimpul (less knot);
4.         Pemberat

           Merupakan bahan untuk menenggelamkan rumpon dan rumpon tidak berpindah tempat yang dibuat dari semen yang dicor.

·           Bahannya murah, kuat dan mudah diperoleh
·           Massa jenisnya besar, permukaannva tidak licin dan dapat mencengkeram.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar