Bagan Apung yang terapung-apung
Teluk mutiara
Setiap naik kapal penumpang antar
pulau di Alor, saya sering berpapasan dengan salah satu alat tangkap pasif
seperti gambar diatas. Orang Indonesia umumnya menyebut sebagai Bagan apung
atau bagan rakit, sejujurnya agak menutupi jalur pelayaran didalam teluk
Kalabahi ketika jumlah pemasangannya semakin banyak. Saya penasaran untuk
mencari lebih banyak informasi terkait Bagan apung. Setengah hari browshing
sana baca sini, berikut ulasan mengenai bagan apung.
Bagan merupakan alat tangkap pasif
namun ada beberapa jenis variannya menurut saya semi aktif. Dibilang
pasif karena cara pengoperasian alat tangkap ini tetap diwiayah yang sama yaitu
dengan bagan tancap cara kerjanya menjebak atau lebih tepatnya memanfaatkan
tingkah laku biota laut yang suka sekali dengan cahaya (fototaksis) dengan
memanfaatkan lampu bohlam plus serangkaian genset atau petromak jika mau lebih
irit, sedangkan bagan jenis yaitu bagan apung, kontruksinya mirip dengan bagan
tancap saja tidak kontruksi bagian bawahnya adalah kapal, sehingga lebih
leluasa berpindah dalam mencari ikan targetnya, cara kerjanya sama persis
dengan bagan tancap. Well, bisa dikatakan bagan ini juga tergolong lift net atau
jaring angkat. Bentuk bagian yang mengapung boleh apapun yang penting
mengapung, namun prinsipnya menurut saya hanya terdiri dari 2 keyword saja
untuk pengoperasiannya; Cahaya dan jaring angkat.

Gambar 1. Bagan apung di Teluk Mutiara Alor (1), bagan apung di pulau Adonara Flores Timur (2) dan bagan tancap di tanjung redeb, Berau (3)
Bagan apung yang saya temui di Alor
tidak menggunakan kapal tapi tetap saja bisa leluasa dipindah, karena
menggunakan dirigen plastik atau streofoam untuk mengapung. Persis sekali
seperti keramba jaring apung (KJA) dalam skala lebih besar tentunya.
Pengoperasiannya seperti dijelaskan sebelumnya menggunakan cahaya, seperti
dijabarkan oleh Ayodhyoa (1981) dalam buku tingkah laku ikan yang saya
berkumpul dibawah sinar cahaya dibedakan menjadi 2 kelompok. Kelompok yang
memiliki sifat phototaksis positif, sedangkan yang kedua kelompok ikan yang
mencari makanan (Feeding) di sekitar cahaya seperti plankton dan
ikan-ikan kecil.
Pada percobaan Mitsugi (1974)
mememukan beberapa kelompok ikan yang tertarik dan tidak tertarik dengan
cahaya, yaitu :
- Ikan yang tertarik oleh cahaya (Fototaksis), antara
lain : mackerel, sardin, cumi-cumi dan baracuda
- Ikan yang kurang tertarik oleh cahaya, antara lain :
Ekor kuning (Caesionidae), Tuna dan Salmon
- Ikan yang takut oleh cahaya (photohobia) , antara lain
: belut, kepiting, dan gurita
Berdasarkan hal tersebut tidak heran
target jenis ikan yang umumnya didapat adalah teri (Stolephorus sp.) dan
rebon (Mysis sp) sedangkan Hasil tangkapan sampingannya berupa ikan
embang (Clupea sp.), layur (Trichiurus sp.), kembung (Rastrelliger
sp.), selar (Caranx sp.), cumi-cumi (Loligo sp.) dan sotong (Sephia
sp.) (Monintja dan Martasuganda 1991).
Kemudian aada penelitian dari Prof.
H. Sudirman tahun 2003 bahwa waktu penyalaan lampu pada bagan itu mempengaruhi
hasil tangkapan loh. Berikut tabelnya :
Waktu
Penyalaan lampu pada bagan
|
Waktu
kedatangangan ikan dan jenis ikan yang datang di bawah flatform bagan
|
|
Jenis-jenies
ikan
|
Waktu
kedatangan ikan dibawah bagan (Menit)
|
|
18:10 PM
|
Ikan-ikan
kecil (unidentify)
Ikan
teri
Cumi-cumi
Half
beak
Ikan
Terbang
Ikan
buntal
|
10151845
55
70
|
22:00 PM
|
Ikan-ikan
kecil (unidentify)
Ikan
teri
Cumi-cumi
Ikan
Terbang, Ikan buntal
|
9152022
|
02:00 AM
|
Ikan-ikan
kecil (unidentify)
Ikan
teri
Cumi-cumi
|
91619
|
Tabel diatas berdasarkan pengamatan
visual, jadi yang umumnya terlihat pada jenis ikan-ikan yang dipermukaan air
yang teridentifikasi, kembung, layang, dan tembang umumnya dikedalaman 20-30 m,
sedangkan ikan selar diluar catchable area.
Hasil penangkapan bagan apung di
Alor umumnya didominasi oleh jenis ikan Melus yang dijual dipasar lokal
kalabahi. Sedangkan mengenai target ikannya di kabupaten tetangga seperti
Lembata dan Flores Timur bagan apungnya digunakan untuk menangkap ikan tembang,
layang dan melus yang diperuntukkan bukan hanya untuk konsumsi lokal di pasar
melainkan juga menjadi konsumsi ikan lain atau sebagai umpan hidup seperti
Cakalang pada kapal Pole and line (huhatei) atau kapal pancing lainnnya untuk
penangkapan tuna. Jadi umpan yang didapatkan diusahakan tetap kondisi hidup dan
fit hingga dijemput kapal pembeli tersebut. Harganya berbeda ketika dijual
dalam kondisi fresh dan hidup, teridentifikasi tembang dalam kondisi hidup per
ember berkisar 60-90 kg dihargai Rp.100.000/ember atau sekitar 5000 ekor
tembang. Rata-rata 1 trip ketika musim puncak bisa mendapatkan 1500-2000 kg
ikan tembang, musim sedang 1000-1500 kg dan musim apesnya mulai dari 50-300 kg,
untuk jenis layang pada musim puncak 1000 kg, musim sedang 800kg dan paceklik
500kg, melus pada musim puncak 500 kg, sedangkan jenis ikan melus pada
musim puncak bisa menangkap 200-300kg/trip dan musim pacekliknya cukup puas
dengan 60-100 kg.
Jadi sebagian besar nelayan dengan
alat tangkap pole and line cukup bersimbiosis mutualisme dengan nelayan bagan
apung ini dalam upaya peningkatan produksi perikanan cakalang dan tuna.
keberadaan bagan apung sebagai penyedia umpan hidup mendorong efisiensi
penangkapan Cakalang dan tuna. Seperti artikel sebelumnya mengenai huhatei,
kecenderungan peningkatan produksi Cakalang dan tuna ini melalui penambahan
armada yang diiringi dengan penambahan jumlah trip penangkapan. Permintaan
umpan hidup juga meningkat dari bagan-bagan apung yang ada. Pastinya nelayan
bagan apung semakin semangat untuk menambah tripnya. Kemudian bagaimana daya
dukung stock umpan hidup tersebut?
Ekosistem bakau merupakan salah satu
kunci dalam mempertahankan siklus reproduksi ikan-ikan tersebut, mempertahankan
keanekaragaman dan luasan bakau perlu menjadi prioritas kebijakan perikanan
didaerah tersebut. Kemudian diiringi dengan adanya mekanisme kebijakan yang
tegas dalam pembatasan armada atau trip dari alat tangkap huhatei dan bagan
apung tersebut. Sejujurnya biarlah mekanisme pasar yang akan menaikan harga
jual ikan dikarenakan penangkapan cakalang dan tuna yang semakin terbatas, yang
terpenting perikanan yang ada tidak terbatas J. YG
Narasumbernye :
B.S. Mulyono, Taurusman. A.A dan
Sudirman. 2010. Tingkah Laku Ikan : Hubungannya dengan Ilmu dan Teknologi
Perikanan Tangkap. Lubuk Agung. Bandung
Deskripsi
dan Spesifikasi Alat Bantu Penangkapan Ikan
Adapun alat bantu yang dipergunakan dalam
pengoperasian alat tangkap purse seine adalah
a. Rumpon
Rumponsebagaialatbantuuntukmenangkapikan
yang dipasang di laut, baiklautdangkalmaupunlautdalamdapatmeningkatkanhasiltangkapan.
Pemasangantersebutdimaksudkanuntukmenarikgerombolanikan agar
berkumpuldisekitarrumpon,
sehinggaikanmudahuntukditangkap.Denganpemasanganrumponmakakegiatanpenangkapan
ikanakanmenjadilebihefektifdanefisienkarenatidaklagiberburuikan
(denganmengikutiruayanya
)tetapicukupmelakukankegiatanpenangkapanikandesekitarrumpontersebut.
Sebagaialatbantupenangkapanikan,
rumponberfungsiuntukmengumpulkankelompokikan
(ikan-ikanpelagiskecildanpelagisbesar) padasuatu area tertentusebalumdilakukanpenangkapan.
Rumpon di Indonesia telahdikenalsejakdulu yang
dikenaldenganberbagaimacamistilahsepertiRabo (Sumater Barat), tendak (Jawa),
rumpong (Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan) dantuasen (Sumatera Utara).
Rumpon perairan dalam
sangat bermanfaat bagi masyarakat nelayan maupun bagi kelestarian
ekosistem perairan. Hal ini disebab karena teknologi rumpon laut dalam atau
rumpon perairan ini memudahkan nelayan atau para penangkap ikan lainnya untuk
dapat mengambil ikan yang berada pada kedalaman diatas 200 meter. Selain itu
dengan adanya rumpon, kapal penangkap dapat menghemat waktu dan bahan bakar,
karena tidak perlu lagi mencari dan mengejar gerombolan ikan dari dan menuju ke
lokasi penangkapan.
Jenis-jenis Rumpon
Terdapat 3 jenis rumpon, yaitu:
- Rumpon Perairan Dasar adalah
alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan pada dasar
perairan laut.
- Rumpon Perairan Dangkal adalah alat bantu penangkapan ikan yang
dipasang dan ditempatkan pada perairan laut yang di pasang pada
kedalaman 20-100 meter untuk mengumpulkan jenis-jenis
ikan pelagis kecl seperti : kembung, selar, tembang,
japuh, layang dan lain sebagainya.
- Rumpon Perairan Dalam adalah
alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan pada perairan
laut dengan kedalaman diatas 200 meter.
Bahan dan Komponen Rumpon
Setiap rumpon
terdiri dari beberapa komponen. Di Indonesia rumpon masih menggunakan bahan
alami seperti daun kelapa, tali plastik yang sudah pasti kekuatannya sangat
terbatas. Tim Pengkajian Rumpon IPB (1987) mengemukakan bahwa persyaratan umum
komponen dan konstruksi rumpon adalah sebagai berikut:
1. Pelampung
Sebagai alat pengapung yang dibuat dari besi plat yang dibentuk seperti
tabung.
· Mempunyai kemampuan
mengapung yang cukup baik (bagian yang mengapung diatas air 1/3 bagian)
· Konstruksi cukup kuat
· Tahan terhadap gelombang
dan air
· Mudah dikenali dari jarak
jauh
· Bahan pembuatnya mudah
didapat;
2. Atraktor
Merupakan pemikat
yang bertujuan untuk memikat ikan disekeliling rumpon yang terbuat dari daun
nyiur atau daun kelapa
· Mempunyai daya pikat yang
baik terhadap ikan
· Tahan lama
· Mempunyai bentuk seperti
posisi potongan vertikal dengan arah ke bawah
· Melindungi ikan-ikan
kecil
· Terbuat dan bahan yang
kuat, tahan lama dan murah;
3. Tali-temali
Guna sebagai
pengikat pelampung dan pemberat bahannya terbuat dari polyethylene kemudian
ditambahkan kawat baja untuk mengikat atraktor supaya cepat tenggelam dan tidak
mengapung.
· Terbuat dan bahan yang
kuat dan tidak mudah busuk
· Harganya relatif murah,
mempunyai daya apung yang cukup untuk mencegah gesekan terhadap benda-benda
lainnya dan terhadap arus
· Tidak bersimpul (less
knot);
4. Pemberat
Merupakan
bahan untuk menenggelamkan rumpon dan rumpon tidak berpindah tempat yang dibuat
dari semen yang dicor.
· Bahannya murah, kuat dan
mudah diperoleh
· Massa jenisnya besar,
permukaannva tidak licin dan dapat mencengkeram.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar