Rabu, 28 Desember 2016


Perikanan budidaya laut

Perikanan budidaya laut membutuhkan biaya
lebih yang besar dibanding perikanan tangkap. Maka,
komoditas yang dipilih haruslah komoditas yang
memiliki nilai ekonomi tinggi. Tetapi jenis-jenis ikan
dengan nilai ekonomi tinggi seperti berbagai jenis
ikan karang menuntut habitat hidup berupa perairan
yang bersih dari pencemaran. Meskipun berada di
pantai utara Jawa yang umumnya sudah tercemar,
perairan Karimunjawa memenuhi spesifikasi perairan
yang bersih untuk budidaya kerapu dan rumput laut
(Tistiantoro, 2006;Ariyati dkk, 2007).
Pulau Karimunjawa menjadi pusat kecamatan
yang berjarak ± 83 km dari Kota Jepara, Jawa
Tengah. Memiliki luas sekitar 110.117,3 hektar
dengan Temperatur udara 23° - 32° C dengan
ketinggian 0 - 605 meter dari permukaan laut. Letak
geografis 5°42’ - 6°00’ LS, 110°07’ - 110°37’ BT
(DEPHUT, 2008). Keterbatasan lahan memaksa
dilakukannya suatu optimasi untuk menentukan
produk mana yang akan dibudidayakan agar
diperoleh keuntungan yang maksimal. Disisi lain,
kapasitas produksi bibit ikan dari hatchery dirasa
masih sangat kurang dibandingkan dengan potensi
pasar produk perikanan mengingat Jepara cukup
dekat dengan Semarang sebagai daerah pasar.
Beberapa komoditas perikanan budidaya laut yang
telah dibudidayakan di kepulauan Karimunjawa
diantaranya rumput laut, kerapu macan dan kerapu
bebek. Lama budidaya untuk kerapu macan 1–1,5
tahun, sementara kerapu bebek 1,5–2 tahun.
Umumnya saat panen kerapu hasil budidaya
berukuran 3 - 4 ekor per kg. Harga jual kerapu macan
Rp 160 ribu per kg dan kerapu bebek Rp 360 ribu per
kg. Benih didapat dari Bali dan Jepara, dengan
ukuran 10 cm. Harga benih Rp 1.500 per cm per
ekor (Trobos, 2012). Gambar ikan kerapu kerapu
bebek diberikan pada Gambar 1.
Gambar 1. Ikan Kerapu bebek
Sumber : Wikipedia
Pemrograman Linear
Model matematis perumusaan masalah umum
pengalokasian sumberdaya untuk berbagi kegiatan,
disebut sebagai Model Pemrograman Linear.
Tahapan dalam penelitian linear programmning atau
pemrograman linear meliputi (1) Formulasi masalah,
(2) Input persamaan linear dalam softwarre Quant
System, (3) Running software, (4) Analisa
sensitivitas. Analisis kepekaan adalah analisis yang
dilakukan untuk mengetahui akibat/pengaruh dari
perubahan yang terjadi pada parameter-parameter LP
terhadap solusi optimal yang telah dicapai. Penelitian
tentang dampak dari perubahan nilai paramter di
parameter linear ini dikenal dengan nama analisis
sensitivitas. (Dimyati, 2004).
J@TI Undip, Vol IX, No 3, September 2014 159
Model LP ini merupakan bentuk dan susunan
dalam menyajikan masalah-masalah yang akan
dipecahkan dengan teknik LP. Dalam model LP
dikenal 2 macam “fungsi”, yaitu fungsi tujuan
(objective function) dan fungsi-fungsi batasan
(constraint functions). Fungsi tujuan adalah fungsi
yang menggambarkan tujuan/sasaran didalam
permasalahan LP yang berkaitan dengan pengaturan
secara optimal sumber daya-sumber daya, untuk
memperoleh keuntungan maksimal atau biaya
minimal. Sedangkan fungsi batasan merupakan
bentuk penyajian secara matematis batasan-batasan
kapasitas yang tersedia yang akan dialokasikan secara
optimal ke berbagai kegiatan.
Untuk mengembangkan model linear
programming perikanan budidaya laut maka
parameter model diasumsikan deterministik dan
konstan. Parameter model diperoleh dari kajian
pustaka (Mayunar dkk, 1995; Ristek, 2001;Irzal dkk,
2006). Berikut parameter-parameter yang terlibat
dalam model perikanan budidaya laut .
1. Luas lahan total (ha)
Nilai ini diperoleh berdasarkan peraturan zonasi
di perairan Karimunjawa.
2. Asumsi modal pembiayaan (Rp/tahun)
Modal pembiayaan proyek pemanfaatan lahan
untuk budidaya laut nilainya diasumsikan.
3. Jenis komoditi
Yang diujicobakan merupakan komoditi yang
sesuai secara fisik, kimia, dan biologi untuk
dibudidayakan di perairan studi kasus.
4. Luas lahan budidaya laut sesuai berdasarkan
identifikasi kesesuaian lahan
 Lahan budidaya untuk ikan dalam KJA
 Lahan budidaya untuk rumput laut dengan
metode apung
 Lahan budidaya untuk kekerangan
5. Ketersediaan hatchery
Menggambarkan jumlah bibit yang dapat
digunakan untuk budidaya laut yang
direncanakan. Jumlah bibit dapat diperoleh dari
data statistik perikanan budidaya di wilayah studi
kasus.
6. Parameter ekonomi
Parameter ekonomi untuk studi kasus ini adalah
nilai dari koefisien beberapa input variabel
berikut (n adalah jenis komoditi) :
a. Keuntungan tiap kg komoditi
cn =
jumlah produksi pertahun perhektar
keuntungan produksi / thn / ha ....(1)
b. Biaya tiap kg komoditi
a1n=
jumlah produksi pertahun
Annualbiaya investasi biaya operasional .........(2)
c. Penggunaan lahan tiap kg komoditi
a2n=
jumlah produksi/ ha / thn
1 ,................(3)
d. Kebutuhan benih dari hatchery tiap kg komoditi
a5n=
jumlah produksi pertahun
jumlah kebutuhan benih/ thn .......(4)
Komoditas yang diujicobakan antara lain
kekerangan, ikan laut dengan metode Keramba Jaring
Apung (KJA) dan rumput laut dengan metode apung.
Model optimasi linear produksi budidaya laut studi
kasus perairan Karimunjawa sebagai berikut:
Fungsi Tujuan:
Maksimalkan nilai Z
Z=C1X1 + C2X2 + C3X3 + C4X4+ C5X5 + C6X6........(5)
Fungsi-fungsi kendala sebagai berikut:
a. Keterbatasan dana
a11X1+a12X2+a13X3+a14X4+a15X5+a16X6≤ b1......(6)
b. Kapasitas total lahan
a21X1+a22X2+a23X3+a24X4+a25X5+a26X6≤b2.......(7)
c. Luas lahan sesuai untuk metode apung
a21X1≤ b3.......................................................(8)
d. Luas lahan sesuai untuk KJA
a23X3+ a24X4+a25X5≤ b4.....................(9)
e. Ketersediaan bibit
a33X3 + a34X4+a35X5≤ b5 ...........(10)
dan X1 ≥ 0, X2 ≥0, X3 ≥0, ..., X6 ≥0......(11)
Keterangan:
C1 : keuntungan/kg Rumput laut (Rp)
C2 : keuntungan/kg Kerang darah (Rp)
C3 : keuntungan/kg Kerapu Bebek (Rp)
C4 : keuntungan/kg Kerapu Macan (Rp)
C5 : keuntungan/kg Kakap Putih (Rp)
C6 : keuntungan/kg Tiram Mutiara (Rp)
a11 : biaya produksi/ kg rumput laut /tahun/Ha
a12 : biaya produksi/ kg kerang darah /tahun/Ha
a13 : biaya produksi/kg kerapu bebek/tahun/Ha
a14 : biaya produksi/ kg kerapu macan /thn/Ha
a15 : biaya produksi/kg kakap putih /tahun/Ha
a16 : biaya produksi/ kg tiram mutiara/tahun/Ha
a21 : kebutuhan luas lahan/kg rumput laut (ha)
a22 : kebutuhan luas lahan/kg kerang darah (ha)
a23 : kebutuhan luas lahan/kg kerapu bebek (ha)
a24 : kebutuhan luas lahan /kg kerapu macan (ha)
a25 : kebutuhan luas lahan /kg kakap putih (ha)
a26 : kebutuhan luas lahan/kg tiram mutiara (ha)
a33 : kebutuhan bibit/kg kerapu bebek (ha)
a34 : kebutuhan bibit/kg kerapu macan (ha)
a35 : kebutuhan bibit/kg kakap putih (ha)
b1 : asumsi modal atau investasi total (Rp)
b2 : kapasitas total luas lahan budidaya (Ha)
b3: luas lahan sesuai untuk rumput laut (Ha)
b4: luas lahan sesuai untuk ikan dlm KJA (Ha)
b5 : jumlah bibit ikan yang tersedia (Kg)
Hasil dan Pembahasan
Formulasi pemrograman linear
Nilai dari parameter-parameter yang telah
diidentifikasi berdasarkan model linear programming
untuk perikanan budidaya laut kepulauan
Karimunjawa diberikan pada Tabel 1. Nilai
parameter parameter tersebut adalah sebagai berikut :
1. Luas lahan total (ha) perairan budidaya seluas
788.213 hektar.
2. modal pembiayaan sebesar Rp 1.000.000.000,00.
Jenis komoditi sesuai yang diujicobakan yaitu
J@TI Undip, Vol IX, No 3, September 2014 160
rumput laut, kerang darah, ikan kerapu tikus,
kerapu macan, kakap putih, serta tiram mutiara.
3. Luas lahan sesuai budidaya ikan dalam KJA
150,14 ha.
4. Luas lahan budidaya untuk rumput laut dengan
metode apung 42 ha.
5. Luas lahan budidaya untuk kekerangan
diasumsikan 788.213 hektar.
6. Ketersediaan hatchery 28.953ekor.
7. Parameter ekonomi dihitung dari analisis biaya
tiap komoditi berdasarkan biaya budidaya laut.
Parameter model linear programming
dimasukkan ke dalam formulasi matematis.
Fungsi Tujuan: Maksimumkan nilai Z
Z=282,11X1+1.572,5X2 + 180.309X3 + 9.873X4 +
910,41X5 + 85.453.281,65X6...............................(12)
Fungsi-fungsi kendala sebagai berikut:
1) Keterbatasan dana
19,16X1 + 1.927,5X2 + 125.197X3 + 70.575,37X4 +
3.163,01X5 + 314.546.718,3X6 ≤
1.000.000.000...........(13)
2) Kapasitas total lahan
0,0000125X1 + 0,000125X2 + 0,00000675X3 +
0,0000045X4 + 0,0000012X5 + 0,069 X6 ≤ 788.213
................ (14)
3) Kapasitas maksimum lahan potensial untuk
budidaya rumput laut
0,0000125X1 ≤ 42................................... (15)
4) Kapasitas maksimum lahan potensial budidaya
ikan dalam KJA
0,00000675X3 + 0,0000045X4 + 0,0000012X5 ≤
150,14............................(16)
5) Ketersediaan bibit
5X3 + 2,5X4 + 2,2X5 ≤ 28.953 ......................(17)
Dan X1 ≥ 0, X2 ≥0, X3 ≥0, ..., X6 ≥0..........(18)
Analisa Hasil Optimasi
Persoalan model optimasi budidaya laut
menggunakan linear programming kemudian
diselesaikan dengan bantuan software QS.
Berdasarkan output QS, model optimasi budidaya
laut mencapai solusi optimal dengan nilai Rp
2.163.846.000,00. Nilai ini dicapai dengan variabel
keputusan yang diproduksi yaitu X1 = 3.360.000 kg ,
X2= 109.290,10 kg, X3=5.790 kg, X4=0, X5=0, dan
X6=0. Hasil ini menggambarkan bahwa dilihat dari
segi ekonomi, kegiatan produksi yang menghasilkan
keuntungan maksimal adalah produksi rumput laut,
kerang darah, dan kerapu bebek saja. Jika dilihat dari
nilai keuntungan relatif usaha budidaya rumput laut
menggunakan analisis return cost ratio (R/C)
diperoleh nilai paling besar dibanding komoditas
lainnya yaitu 15,73. Nilai R/C kerapu bebek memiliki
nilai terbesar kedua yaitu sebesar 2,44 dan urutan
ketiga nilai R/C kerang darah sebesar 1,82. Nilai R/C

jenis-jenis alat tangkap tradisional

5.    PANCING (HOOK AND LINE) 
          Pancing adalah salah satu alat penangkap yang terdiri dari dua komponen utama,yaitu : tali (line) dan mata pancing (hook). Jumlah mata pancing berbeda-beda, yaitumata pancing tunggal, ganda, bahkan sampai ribuan. Prinsip alat tangkap ini merangsangikan dengan umpan alam atau buatan yang dikaitkan pada mata pancingnya. Alat ini pada dasarnya terdiri dari dua komponen utama yaitu tali dan mata pancing. Namun, sesuaidengan jenisnya dapat dilengkapi pula komponen lain seperti : tangkai (pole), pemberat(sinker), pelampung (float), dan kili-kili (swivel). Cara pengoperasiannya bisa di pasangmenetap pada suatu perairan, ditarik dari belakang perahu/kapal yang sedang dalamkeadaan berjalan, dihanyutkan, maupun langsung diulur dengan tangan. Alat inicenderung tidak destruktif dan sangat selektif. Pancing dibedakan atas rawai tuna, rawaihanyut, rawai tetap, pancing tonda, dan lain-lain.
 
A. Rawai Tuna atau Tuna Longline
Rawai tuna atau longline tuna adalah alat penangkap tuna yang paling efektif. Rawai tuna merupakan rangkaian sejumlah alat pancing yang dioperasikan sekaligus. Satu tuna longliner biasnya mengoperasikan 1000-2000 mata pancing untuk sekali turun.
Rawai tuna umumnya dioperasikan di laut lepas atau mencapai perairan samudera. Alat tangkap ini bersifat pasif, menanti umpan dimakan oleh ikan sasaran. Setelah pancing diturunkan ke perairan, lalu mesin kapal dimatikan, sehingga kapal dan alat tangkap akan hanyut mengikuti arus atau sering disebut drifting.
Drifting berlangsung selama kurang lebih empat jam. Selanjutnya mata pancing diangkat kembali ke atas kapal.Umpan longline harus bersifat attraktif, misalnya sisik ikan mengkilat, tahan di dalam air, dan tuang punggung kuat. Umpan dalam pengoperasian alat tangkap ini berfungsi sebagai pemikat ikan, contoh umpannya ialah ikan lemuru, layang, dan bandeng.

B. Huhate atau Pool and Line
            Huhate atau pole and line khusus dipakai untuk menangkap cakalang. Tak heran jika alat ini sering disebut "pancing cakalang". Huhate dioperasikan sepanjang siang hari pada saat terdapat gerombolan ikan di sekitar kapal. Alat tangkap ini bersifat aktif. Kapal akan mengejar gerombolan ikan. Setelah gerombolan ikan berada di sekitar kapal, lalu diadakan pemancingan.
Terdapat beberapa keunikan dari alat tangkap huhate. Bentuk mata pancing huhate tidak berkait seperti lazimnya mata pancing. Mata pancing huhate ditutupi bulu-bulu ayam atau potongan rafia yang halus agar tidak tampak oleh ikan.
            Bagian haluan kapal huhate mempunyai konstruksi khusus, dimodifikasi menjadi lebih panjang, sehingga dapat dijadikan tempat duduk oleh pemancing. Kapal huhate umumnya berukuran kecil. Di dinding bagian lambung kapal, beberapa cm di bawah dek, terdapat sprayer dan di dek terdapat beberapa tempat ikan umpan hidup. Sprayer adalah alat penyemprot air.Pemancingan dilakukan serempak oleh seluruh pemancing. Pemancing duduk di sekeliling kapal dengan pembagian kelompok berdasarkan keterampilan memancing.Pemancing I adalah pemancing paling unggul dengan kecepatan mengangkat mata pancing berikan sebesar 50-60 ekor per menit. Pemaneing I diberi posisi di bagian haluan kapal, dimaksudkan agar lebih banyak ikan tertangkap.Pemancing II diberi posisi di bagian lambung kiri dan kanan kapal. Sedangkan pemancing III berposisi di bagian buritan, umumnya adalah orang-orang yang baru belajar memancing dan pemancing berusia tua yang tenaganya sudah mulai berkurang atau sudah lamban. Hal yang perlu diperhatikan adalah pada saat pemancingan dilakukan jangan ada ikan yang lolos atau jatuh kembali ke perairan, karena dapat menyebabkan gerombolan ikan menjauh dari sekitar kapal.Umpan yang digunakan adalah umpan hidup, dimaksudkan agar setelah ikan umpan dilempar ke perairan akan berusaha kembali naik ke permukaan air. Hal ini akan mengundang cakalang untuk mengikuti naik ke dekat permukaan. Selanjutnya dilakukan penyemprotan air melalui sprayer. Penyemprotan air dimaksudkan untuk mengaburkan pandangan ikan, sehingga tidak dapat membedakan antara ikan umpan sebagai makanan atau mata pancing yang sedang dioperasikan.Umpan hidup yang digunakan biasanya adalah teri (Stolephorus spp.)

2. Pukat (Cungking Trawl) 
          Pukat harimau atau lebih dikenal Cungking Trawl adalah termasuk otter trawl kecil atau dikatakan Mini Otter Trawl. Pukat harimau adalah tipe shrimp trawl, berbentuk bulat panjang dengan sayap pendek. Jaring trawl ini dapat digolongkan tipe Meksiko.
Bahan jaring yang dipakai sintetik fibre (Polyethylene). Pelampungnya dari bahan plastik, berbentuk bulat dan mengecil pada kedua ujungnya. Kapal yang umumnya digunakan berbobot 15 ton (25 PK). Papan trawl berukuran 1,33 m panjang, 0,57 m lebar dan tebal 2,5 cm, berat 27 kg/buah. Jaring trawl yang dipakai berukuran panjang sekitar 12-18 m. Bentuk kapal Cungkring trawl ini dibuat sedemikian rupa dengan luas relatif datar. Gerakannya sangat lincah, dapat menelusuri sampai perairan yang relatif dangkal sekali. Hasil Tangkapan utamanya adalah ikan (utama) dan udang (sampingan)

Pukat Ikan Karang (muro-ami)
Pukat ikan karang (muro-ami) adalah suatu alat penangkapan yang dibuat dari jaring, yang terdiri dari sayap dan kantong yang dalam pengoperasiannya dilakukan penggiringan ikan-ikan yang akan ditangkap agar masuk ke bagian kantong yang telah dipasang terlebih dahulu. Alat ini cenderung tidak destruktif dan tidak merusak ekosistem, karena metode pengoperasiannya yang tidak sampai merusak karang. Penggunaan alat ini dilakukan oleh beberapa nelayan dengan berenang, mengejutkan ikan-ikan karang sambil membawa alat penggiring. Dinamakan pukat ikan karang karena tujuan utamanya adalah menangkap jenis-jenis ikan karang

2. Pukat Kantong
Pukat kantong adalah jenis jaring menangkap ikan berbentuuk kerucut yang terdiri dari kantong atau bag, badan(body), dua lembar sayap (wing) yang dipasang pada kedua sisi mulut jaring, dan tali penarik (warp). Alat ini tergolong tradisional, tidak merusak lingkungan, dan ukurannya mesh sizenya relatif kecil. Pukat kantong terdiri atas payang, dogol, dan pukat pantai.
3. Pukat Cincin (purse seine)
Pukat cincin adalah jaringan yang terbentuk empat persegi panjang, dilengkapi tali kerut yang bercincin yang diikatkan pada bagian bawah jaring sehingga membentuk kerut dan seperti mangkuk. Alat penangkap ini ditujukan untuk menangkap gerombolan ikan permukaan (pelagic fish). Alat tangkap ini tergolong efektif terhadap target spesies dan kecenderungan tidak destruktif.

  • Jala
Jala merupakan alat yang berbentuk jaring-jaring seperti laba-laba sehingga ikan-ikan kecil masuk di lubang jala tersebut jala ini di operasikan dengan cara di lemparkan hingga melebar akan terbentuk bulat lalu di tarik perlahan-lahan dengan tekhnik tertentu dalam pengoprasianya.

budidaya tambak udang

HASIL DAN PEMBAHASAN

Uji Beda Rata-rata Biaya Produksi Usaha Tambak Udang Sistem Ekstensif dan Sistem Intensif

Dari hasil analisis Uji Beda Rata-rata biaya produksi pada usaha tambak udang sistem ekstensif dan sistem intensif diketahui bahwa nilai Thitung adalah -7,247 dan nilai Ttabel adalah 2,080, dimana Thitung > Ttabel sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan biaya produksi pada usaha budidaya tambak udang sistem ekstensif dan sistem intensif. Rata-rata biaya produksi untuk budidaya tambak udang sistem ekstensif adalah sebesar Rp2.038.720,98 sedangkan rata-rata biaya produksi untuk budidaya tambak udang sistem intensif adalah sebesar Rp4.104.896,82.
Tabel 1. Hasil Uji Independent Sample T Test Biaya Produksi Usaha Budidaya Tambak Udang Sistem Ekstensif dan Sistem Intensif
Variabel
Nilai
Equal Variances Assumed
Sig. (2-tailed)
0,000
Df
21
Ttabel (0,95)
2,080
T hitung
-7,247
Rata-rata Biaya Produksi Sistem Ekstensif
2.038.720,98
Rata-rata Biaya Produksi Sistem Intensif
4.104.896,82
Sumber: Analisis Data Primer, 2013
Uji Beda Rata-rata Pendapatan Usaha Tambak Udang Sistem Ekstensif dan Sistem Intensif
Hasil analisis uji beda rata-rata pendapatan pada usaha budidaya tambak udang sistem ekstensif dan sistem intensif diketahui bahwa nilai Thitung adalah -5,532 dan nilai Ttabel adalah 2,080, dimana Thitung > Ttabel sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan pendapatan pada usaha budidaya tambak udang sistem ekstensif dan sistem intensif. Rata-rata pendapatan pada usaha budidaya tambak udang sistem ekstensif adalah sebesar Rp4.038.351,19 sedangkan rata-rata pendapatan pada usaha budidaya tambak udang sistem intensif adalah sebesar Rp7.975.162,69.
Tabel 2. Hasil Uji Independent Sample T Test Pendapatan Usaha Budidaya Tambak Udang Sistem Ekstensif dan Sistem Intensif
Variabel
Nilai
Equal Variances Not Assumed
Sig. (2-tailed)
0,001
Df
7,383
Ttabel (0,95)
2,080
T hitung
-5,532
Rata-rata Pendapatan Sistem Ekstensif
4.038.351,19
Rata-rata Pendapatan Sistem Intensif
7.975.162,69
Sumber: Analisis Data Primer, 2013
Tabel 3. Perbedaan Budidaya Tambak Udang Sistem Ekstensif dan Intensif
Uraian
Ekstensif
Intensif
Jumlah Benur (ekor/ha)
36.269
61.012
Biaya Produksi (Rp/ha)
2.038.720,98
4.104.896,82
Produksi (kg/ha)
72,25
143,15
Pendapatan (Rp/ha)
4.038.351,19
7.975.162,69
Sumber: Analisis Data Primer, 2013
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Tambak Udang Sistem Ekstensif dan Sistem Intensif
Persamaan regresi faktor-faktor yang mempengaruhi produksi tambak udang sistem ekstensif dan sistem intensif adalah sebagai berikut:
Ŷ = -70,991 + 21,705X1  2,760X2  0,001X3  1,573X4  109,408X5
(0,554) (*0,023) (*0,027) (*0,024) (0,446) (0,143)
Keterangan: * signifikan t
R2 = 0,928
Signifikansi F = 0,000
Nilai koefisien determinasi (R2) yang diperoleh adalah sebesar 0,928. Hal ini menunjukkan bahwa sebesar 92,8% variasi jumlah produksi tambak udang (Y) dipengaruhi oleh luas lahan (X1), penggunaan pakan (X2), padat tebar (X3), penggunaan tenaga kerja (X4) dan teknologi (X5). Sedangkan sisanya yaitu sebesar 7,2% dipengaruhi oleh variabel lain yang belum dimasukkan ke dalam model.

bagan dan rumpon

Bagan Apung yang terapung-apung
https://ataplaut.files.wordpress.com/2012/06/bagan-apung-landscape-rez.jpg?w=610
Teluk mutiara
Setiap naik kapal penumpang antar pulau di Alor, saya sering berpapasan dengan salah satu alat tangkap pasif seperti gambar diatas. Orang Indonesia umumnya menyebut sebagai Bagan apung atau bagan rakit, sejujurnya agak menutupi jalur pelayaran didalam teluk Kalabahi ketika jumlah pemasangannya semakin banyak. Saya penasaran untuk mencari lebih banyak informasi terkait Bagan apung.  Setengah hari browshing sana baca sini, berikut ulasan mengenai bagan apung.
Bagan merupakan alat tangkap pasif namun ada beberapa jenis variannya menurut saya semi aktif.  Dibilang pasif karena cara pengoperasian alat tangkap ini tetap diwiayah yang sama yaitu dengan bagan tancap cara kerjanya menjebak atau lebih tepatnya memanfaatkan tingkah laku biota laut yang suka sekali dengan cahaya (fototaksis) dengan memanfaatkan lampu bohlam plus serangkaian genset atau petromak jika mau lebih irit, sedangkan bagan jenis yaitu bagan apung, kontruksinya mirip dengan bagan tancap saja tidak kontruksi bagian bawahnya adalah kapal, sehingga lebih leluasa berpindah dalam mencari ikan targetnya, cara kerjanya sama persis dengan bagan tancap. Well, bisa dikatakan bagan ini juga tergolong lift net atau jaring angkat. Bentuk bagian yang mengapung boleh apapun yang penting mengapung, namun prinsipnya menurut saya hanya terdiri dari 2 keyword saja untuk pengoperasiannya; Cahaya dan jaring angkat.
Bagan apung_Alor bagan perahu_Flotim
Bagan tancap
Gambar 1. Bagan apung di Teluk Mutiara Alor (1), bagan apung di pulau Adonara Flores Timur (2) dan bagan tancap di tanjung redeb, Berau (3)
Bagan apung yang saya temui di Alor tidak menggunakan kapal tapi tetap saja bisa leluasa dipindah, karena menggunakan dirigen plastik atau streofoam untuk mengapung. Persis sekali seperti keramba jaring apung (KJA) dalam skala lebih besar tentunya.  Pengoperasiannya seperti dijelaskan sebelumnya menggunakan cahaya, seperti dijabarkan oleh Ayodhyoa (1981) dalam buku tingkah laku ikan yang saya berkumpul dibawah sinar cahaya dibedakan menjadi 2 kelompok. Kelompok yang memiliki sifat phototaksis positif, sedangkan yang kedua kelompok ikan yang mencari makanan (Feeding) di sekitar cahaya seperti plankton dan ikan-ikan kecil.
Pada percobaan Mitsugi (1974) mememukan beberapa kelompok ikan yang tertarik dan tidak tertarik dengan cahaya, yaitu :
  1. Ikan yang tertarik oleh cahaya (Fototaksis), antara lain : mackerel, sardin, cumi-cumi dan baracuda
  2. Ikan yang kurang tertarik oleh cahaya, antara lain : Ekor kuning (Caesionidae), Tuna dan Salmon
  3. Ikan yang takut oleh cahaya (photohobia) , antara lain : belut, kepiting, dan gurita
Berdasarkan hal tersebut tidak heran target jenis ikan yang umumnya didapat adalah teri (Stolephorus sp.) dan rebon (Mysis sp) sedangkan Hasil tangkapan sampingannya berupa ikan embang (Clupea sp.), layur (Trichiurus sp.), kembung (Rastrelliger sp.), selar (Caranx sp.), cumi-cumi (Loligo sp.) dan sotong (Sephia sp.) (Monintja dan Martasuganda 1991).
Kemudian aada penelitian dari Prof. H. Sudirman tahun 2003 bahwa waktu penyalaan lampu pada bagan itu mempengaruhi hasil tangkapan loh. Berikut tabelnya :
Waktu Penyalaan lampu pada bagan
Waktu kedatangangan ikan dan jenis ikan yang datang di bawah flatform bagan
Jenis-jenies ikan
Waktu kedatangan ikan dibawah bagan (Menit)
18:10 PM
Ikan-ikan kecil (unidentify)
Ikan teri
Cumi-cumi
Half beak
Ikan Terbang
Ikan buntal
10151845
55
70
22:00 PM
Ikan-ikan kecil (unidentify)
Ikan teri
Cumi-cumi
Ikan Terbang, Ikan buntal
9152022
02:00 AM
Ikan-ikan kecil (unidentify)
Ikan teri
Cumi-cumi
91619
Tabel diatas berdasarkan pengamatan visual, jadi yang umumnya terlihat pada jenis ikan-ikan yang dipermukaan air yang teridentifikasi, kembung, layang, dan tembang umumnya dikedalaman 20-30 m, sedangkan ikan selar diluar catchable area.
Hasil penangkapan bagan apung di Alor umumnya didominasi oleh jenis ikan Melus yang dijual dipasar lokal kalabahi. Sedangkan mengenai target ikannya di kabupaten tetangga seperti Lembata dan Flores Timur bagan apungnya digunakan untuk menangkap ikan tembang, layang dan melus yang diperuntukkan bukan hanya untuk konsumsi lokal di pasar melainkan juga menjadi konsumsi ikan lain atau sebagai umpan hidup seperti Cakalang pada kapal Pole and line (huhatei) atau kapal pancing lainnnya untuk penangkapan tuna. Jadi umpan yang didapatkan diusahakan tetap kondisi hidup dan fit hingga dijemput kapal pembeli tersebut. Harganya berbeda ketika dijual dalam kondisi fresh dan hidup, teridentifikasi tembang dalam kondisi hidup per ember berkisar 60-90 kg dihargai Rp.100.000/ember atau sekitar 5000 ekor tembang. Rata-rata 1 trip ketika musim puncak bisa mendapatkan 1500-2000 kg ikan tembang, musim sedang 1000-1500 kg dan musim apesnya mulai dari 50-300 kg, untuk jenis layang pada musim puncak 1000 kg, musim sedang 800kg dan paceklik 500kg, melus pada musim puncak 500 kg,  sedangkan jenis ikan melus pada musim puncak bisa menangkap 200-300kg/trip dan musim pacekliknya cukup puas dengan 60-100 kg.
Jadi sebagian besar nelayan dengan alat tangkap pole and line cukup bersimbiosis mutualisme dengan nelayan bagan apung ini dalam upaya peningkatan produksi perikanan cakalang dan tuna. keberadaan bagan apung sebagai penyedia umpan hidup mendorong efisiensi penangkapan Cakalang dan tuna. Seperti artikel sebelumnya mengenai huhatei, kecenderungan peningkatan produksi Cakalang dan tuna ini melalui penambahan armada yang diiringi dengan penambahan jumlah trip penangkapan. Permintaan umpan hidup juga meningkat dari bagan-bagan apung yang ada. Pastinya nelayan bagan apung semakin semangat untuk menambah tripnya. Kemudian bagaimana daya dukung stock umpan hidup tersebut?
Ekosistem bakau merupakan salah satu kunci dalam mempertahankan siklus reproduksi ikan-ikan tersebut, mempertahankan keanekaragaman dan luasan bakau perlu menjadi prioritas kebijakan perikanan didaerah tersebut. Kemudian diiringi dengan adanya mekanisme kebijakan yang tegas dalam pembatasan armada atau trip dari alat tangkap huhatei dan bagan apung tersebut. Sejujurnya biarlah mekanisme pasar yang akan menaikan harga jual ikan dikarenakan penangkapan cakalang dan tuna yang semakin terbatas, yang terpenting perikanan yang ada tidak terbatas J. YG
Narasumbernye :

B.S. Mulyono, Taurusman. A.A dan Sudirman. 2010. Tingkah Laku Ikan : Hubungannya dengan Ilmu dan Teknologi Perikanan Tangkap. Lubuk Agung. Bandung



   Deskripsi dan Spesifikasi Alat Bantu Penangkapan Ikan
Adapun alat bantu yang dipergunakan dalam pengoperasian alat tangkap purse seine adalah
a.       Rumpon
Rumponsebagaialatbantuuntukmenangkapikan yang dipasang di laut, baiklautdangkalmaupunlautdalamdapatmeningkatkanhasiltangkapan. Pemasangantersebutdimaksudkanuntukmenarikgerombolanikan agar berkumpuldisekitarrumpon, sehinggaikanmudahuntukditangkap.Denganpemasanganrumponmakakegiatanpenangkapan ikanakanmenjadilebihefektifdanefisienkarenatidaklagiberburuikan (denganmengikutiruayanya )tetapicukupmelakukankegiatanpenangkapanikandesekitarrumpontersebut.
Sebagaialatbantupenangkapanikan, rumponberfungsiuntukmengumpulkankelompokikan (ikan-ikanpelagiskecildanpelagisbesar) padasuatu area tertentusebalumdilakukanpenangkapan. Rumpon di  Indonesia telahdikenalsejakdulu yang dikenaldenganberbagaimacamistilahsepertiRabo (Sumater Barat), tendak (Jawa), rumpong (Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan) dantuasen (Sumatera Utara).
Rumpon perairan dalam sangat bermanfaat  bagi masyarakat nelayan maupun bagi kelestarian ekosistem perairan. Hal ini disebab karena teknologi rumpon laut dalam atau rumpon perairan ini memudahkan nelayan atau para penangkap ikan lainnya untuk dapat mengambil ikan yang berada pada kedalaman diatas 200 meter. Selain itu dengan adanya rumpon, kapal penangkap dapat menghemat waktu dan bahan bakar, karena tidak perlu lagi mencari dan mengejar gerombolan ikan dari dan menuju ke lokasi penangkapan.
Jenis-jenis Rumpon

Terdapat 3 jenis rumpon, yaitu:

  1. Rumpon Perairan Dasar adalah alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan pada dasar perairan laut.
  2. Rumpon Perairan Dangkal adalah alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan pada perairan   laut yang di pasang pada kedalaman 20-100 meter   untuk mengumpulkan jenis-jenis ikan pelagis kecl seperti : kembung,  selar,  tembang, japuh, layang dan lain sebagainya.
  3. Rumpon Perairan Dalam adalah alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan pada perairan laut dengan kedalaman diatas 200 meter.
Bahan dan Komponen Rumpon

           Setiap rumpon terdiri dari beberapa komponen. Di Indonesia rumpon masih menggunakan bahan alami seperti daun kelapa, tali plastik yang sudah pasti kekuatannya sangat terbatas. Tim Pengkajian Rumpon IPB (1987) mengemukakan bahwa persyaratan umum komponen dan konstruksi rumpon adalah sebagai berikut:

1.       Pelampung

 Sebagai alat pengapung yang dibuat dari besi plat yang dibentuk seperti tabung.

·      Mempunyai kemampuan mengapung yang cukup baik (bagian yang mengapung diatas air 1/3 bagian)
·      Konstruksi cukup kuat
·      Tahan terhadap gelombang dan air
·      Mudah dikenali dari jarak jauh
·      Bahan pembuatnya mudah didapat;
2.         Atraktor

          Merupakan pemikat yang bertujuan untuk memikat ikan disekeliling rumpon yang terbuat dari daun nyiur atau daun kelapa

·           Mempunyai daya pikat yang baik terhadap ikan
·           Tahan lama
·           Mempunyai bentuk seperti posisi potongan vertikal dengan arah ke bawah
·           Melindungi ikan-ikan kecil
·           Terbuat dan bahan yang kuat, tahan lama dan murah;
3.         Tali-temali

           Guna sebagai pengikat pelampung dan pemberat bahannya terbuat dari polyethylene kemudian ditambahkan kawat baja untuk mengikat atraktor supaya cepat tenggelam dan tidak mengapung.

·           Terbuat dan bahan yang kuat dan tidak mudah busuk
·           Harganya relatif murah, mempunyai daya apung yang cukup untuk mencegah gesekan terhadap benda-benda lainnya dan terhadap arus
·           Tidak bersimpul (less knot);
4.         Pemberat

           Merupakan bahan untuk menenggelamkan rumpon dan rumpon tidak berpindah tempat yang dibuat dari semen yang dicor.

·           Bahannya murah, kuat dan mudah diperoleh
·           Massa jenisnya besar, permukaannva tidak licin dan dapat mencengkeram.


Jumat, 09 Desember 2016

Laporan hasil pengamatan Lamun

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Laut yang ada di Indonesia lebih luas dari daratan, oleh karena itu Indonesia dikenal sebagai negara maritim. Perairan laut Indonesia kaya akan berbagai biota laut baik flora maupun fauna. Banyak daerah di laut dangkal yang diliputi oleh tumbuhan “rumput” air yang lebat, yang secara umum disebut rumput-rumputan laut (lamun). Lamun merupakan tumbuhan berbunga yang beradaptasi untuk hidup terendam di dalam air laut.

Lamun (sea grass), atau disebut juga ilalang laut merupakan satu-satunya kelompok tumbuh-tumbuhan berbunga yang terdapat di lingkungan laut. Tumbuh-tumbuhan ini hidup di habitat perairan pantai yang dangkal. Seperti halnya rumput didarat, mereka mempunyai tunas berdaun tegak dan tangkai-tangkai yang merayap yang efektif untuk berkembang biak. Berbeda dengan tumbuh-tumbuhan laut yang lainnya (alga dan rumput laut), lamun berbunga, berbuah, dan menghasilkan biji. Mereka juga mempunyai akar dan sistem internal untuk menghangkut gas dan zat-zat hara. Salah satu bentuk kekayaan flora di perairan Indonesia yaitu adanya tumbuhan lamun. Lamun adalah satu-satunya kelompok tumbuhan berbunga yang hidup dilingkungan laut.

Lamun merupakan produktifitas primer di perairan dangkal di seluruh dunia dan merupakan sumber makanan penting bagi banyak organisme. Fungsi-fungsi di dalam ekosistem ini pun harus berlangsung dalam satu satuan rangkaian dimana satu sama lainnya tidak dapat dipisahkan. Semua ekosistem selalu terbuka, sebab semua ekosistem mempunyai batas-batas yang nyata. Ada energi dan bahan-bahan yang terbentuk didalamnya yang terus menerus keluar dari ekosistem setelah digunakan oleh organisme yang hidup didalamnya.Tempat hidup sekelompok makluk hidup disebut habitat. Makro habitat dibagi atas habitat darat dan habitat air.

Lamun sangat berperan dalam ekosistemnya yaitu dalam hal dapat menstabilkan garis pantai karena lamun ini memiliki akar yang terjalin dengan kuat sehingga dapat menstabilkan substrat yang ada agar tidak cepat tererosi oleh arus maupun gelombang air laut.Selain itu juga fungsinya dalam mempertahankan kehidupan dari biota-biota laut seperti ikan dalam bentuk juvenille karen lamun ini berfungsi dalam hal nursery ground, feeding ground, dan spawning ground. Tumbuh-tumbuhan ini hidup di habitat perairan pantai yang dangkal, seperti halnya rumput didarat, mereka mempunyai tunas berdaun tegak dan tangkai-tangkai yang merayap yang efektif untuk berkembang biak. Berbeda dengan tumbuh-tumbuhan laut yang lainnya. Mereka juga mempunyai akar dan sistem internal untuk menghangkut gas dan zat-zat hara.

Lamun merupakan produktifitas primer di perairan dangkal di seluruh dunia dan merupakan sumber makanan penting bagi banyak organisme. Keberadaan ikan-ikan tersebut perlu dijaga kelestariannya, terutama jenis-jenis ikan penting yang hidup di daerah padang lamun. Berdasarkan latar belakang di atas, maka dianggap penting untuk melakukan Identifikasi Jenis Lamun Dan Uji Kualitas Air Di Perairan Pantai Tanjung Tiram.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada praktikum Identifikasi Jenis Lamun dan Uji Kualitas Air di Perairan Pantai Tanjung Tiram yaitu :
1. Bagaimana mengidentifikasi Jenis Lamun di Perairan Pantai Tanjung Tiram?
2. Berapa hasil pengukuran uji kualitas air pada Perairan Pantai Tanjung Tiram?

C. Tujuan Praktikum
Tujuan pada praktikum Identifikasi Jenis Lamun dan Uji Kualitas Air di Perairan Pantai Tanjung Tiram yaitu :
1. Untuk mengidentifikasi Jenis Lamun di Perairan Pantai Tanjung Tiram.
2. Untuk mengetahui hasil pengukuran uji kualitas air pada Perairan Pantai Tanjung Tiram?

D. Manfaat Praktikum
Manfaat pada praktikum Identifikasi Jenis Lamun dan Uji Kualitas Air di Perairan Pantai Tanjung yaitu : 
1. Untuk dapat mengidentifikasi Jenis Lamun di Perairan Pantai Tanjung Tiram.
2. Untuk mengetahui hasil pengukuran uji kualitas air pada Perairan Pantai Tanjung Tiram.

II. TINJAUAN PUSTAKA
Ekosistem laut di Indonesia mempunyai potensi besar untuk menyerap COsebagai gas utama penyebab utama pemanasan global yang berimplikasi terjadinya perubahan iklim. Salah satu sumber daya laut yang cukup potensial untuk dapat dimanfaatkan sebagai penyerapan gas CO2adalah padang lamun yang secara ekologis padang lamun mempunyai beberapa fungsi penting di daerah pesisir karena padang lamun merupakan satu-satunya tumbuhan berbunga yang ada di laut yang memiliki peran penting dalam penyerapan karbon di laut juga melalui proses fotosintesis (Kawaroe, 2005 dalam Setiawan, 2012).

Pada struktur tingkatan trofik di perairan dangkal. Tumbuhan lamun merupakan salah satu produsen primer. Sebagi produser, lamun melakukan fotosintesis untuk menghasilkan bahan organic dari bahan non-organik dengan bantuan sinar matahari. Produksi yang dihasilkan merupakan peran kunci dari lamun karena bisa menghasilkan biomassa, serasah dan tegakan-tegakan yang mempunyai banyak manfaat, baik secara ekologis maupun ekonomis. Padang lamun data melindungi pantai dari gerusan ombak (Koch, et. al., 2006), sebagai tempat hidup, berlindung dan memijah berbagai organisme penyerap dan penyimpan karbon (Nellemann, et. al., 2009 dalam Supriadi, 2012).

Lamun (seagrass) adalah satusatunya tumbuh-tumbuhan berbunga yang terdapat di lingkungan laut. Seperti halnya rumput di darat, mereka mempunyai tunas berdaun yang tegak dan tangkai-tangkai yang merayap efektifuntuk berkembang-biak dan mempunyai akar dan sistem internal untuk mengangkut gas dan zat-zat hara (Romimohtarto dan Juwana, 2001) Lamun juga merupakan tumbuhan yang telah menyesuaikan diri hidup terbenam di laut dangkal. Lamun mempunyai akar dan rimpang (rhizome) yang mencengkeram dasar laut sehingga dapat membantu pertahanan pantai dari gerusan ombak dan gelombang. Padang lamun dapat terdiri dari vegetasi lamun jenis tunggal ataupun jenis campuran (Hemminga and Duarte, 2000 dalamRappe, 2010).

Fungsi lamun tidak banyak dipahami, banyak padang lamun yang rusak oleh berbagai aktivitas manusia. Padang lamun di Indonesia mengalami penyusutan luasan 30 - 40 % dari luas keseluruhanya yang diakibatkan oleh aktivitas manusia secara langsung (Nontji, 2009). Lamun berkurang secara luas terjadi di belahan dunia sebagai akibat dari dampak langsung kegiatan manusia termasuk kerusakan secara mekanis (pengerukan dan jangkar), eutrofikasi, budidaya perikanan, pengendapan, pengaruh pembangunan konstruksi pesisir, dan perubahan jaring makanan. Dampak kegiatan manusia termasuk pengaruh negatif dari perubahan iklim (erosi oleh naiknya permukan laut, naiknya 2 penyinaran ultraviolet), baik dari sebab-sebab alami, seperti angin siklon dan banjir. Padang lamun yang mulai hilang ini diduga akan terus meningkat akibat tekanan pertumbuhan penduduk di daerah pesisir (Febriyantoro, 2013).

Pada padang habitat lamun hidup berbagai macam spesies hewan, yang berasosiasi dengan padang lamun, sebagai contoh menurut Nybakken (1988) diperairan teluk Ambon Ambon ditemukan 48 famili dan 108 jenis ikan yang adalah sebagai penghuni lamun, Hutomo & Martosewojo inDahuri (2003) menemukan 360 spesies di teluk Banten. Sedangkan Nasution (2003) menemukan 33 jenis ikan dari 22 famili di Pulau Bintan; Merryanto (2000) menemukan 72 jenis dari 39 famili ikan yang berasosiasi dengan lamun di teluk Awur Jepara (Kopalit, 2011).


III. METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum Identifikasi Jenis Lamun dan Uji Kualitas Air Di Perairan Pantai Tanjung Tiram dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 10 November 2013 pukul 9.00-14.00 WITA, dan dilanjutkan kembali pada hari Senin, pada tanggal 18 November 2013 pukul 14.00-15.00 WITA. Bertempat di Perairan Tanjung Tiram dan Laboratorium Analitik, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari.

B. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat yang digunakan pada praktikum Identifikasi Jenis Lamun dan Uji Kualitas Air di Perairan Pantai Tanjung Tiram dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Alat dan kegunaaan pada praktikum Identifikasi Jenis Lamun dan Uji Kualitas Air di Perairan Pantai Tanjung Tiram
No.
Nama Alat
Kegunaan
1.
Buku identifikasi
Untuk mengidentifikasi lamun
2.
Meteran rol
Untuk mengukur
3.
Tali raffia
Untuk membuat plot
4.
Botol Aqua
Sebagai tempat menyimpan lamun
5.
Kamera
Untuk mengambil gambar
6.
Alat tulis
Untuk menulis hasil pengamatan
7
Snorkel
Untuk mengamati lamun didalam air laut


2. Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum Identifikasi Jenis Lamun dan Uji Kualitas Air di Perairan Pantai Tanjung Tiram dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Bahan dan kegunaan pada praktikum Identifikasi Jenis Lamun dan Uji Kualitas Air di Perairan Pantai Tanjung Tiram
No.
Nama Bahan
Kegunaan
1.
Lamun
Sebagai objek yang akan diamati
2.
Air
Sebagai media hidup lamun

C. Prosedur Kerja
Prosedur kerja pada praktikum Identifikasi Jenis Lamun dan Uji Kualitas Air di Perairan Pantai Tanjung Tiram adalah sebagai berikut :
1. Menentukan tempat yang di inginkan seperti pantai tanjung tiram.
2. Membuat garis transek sebanyak tiga titik.
3. Membuat plot 1 m x 1 m pada masing-masing titik.
4. Mengamati lamun ada pada setiap plot beserta organisme lain yang ada di dekat lamun yang diamati.
5. Kemudian mengidentifikasi dengan buku identifikasi.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan pada praktikum Identifikasi Jenis Lamun dan Uji Kualitas Air di Perairan Pantai Tanjung Tiram dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Hasil pengamatan pada praktikum Identifikasi Jenis Lamun.
No
Gambar pada titik I
Klasifikasi
1.
Cymodocea rotundata
clip_image002
Regnum : Plantae
Divisio : Antophyta
Classis : Angiospermae
Ordo : Helobiae
Familia : Potamogetonaceae
Genus : Cymodocea
Species : Cymodocea rotundata
2.
Cymodocea rotundata
clip_image002[8]
Regnum : Plantae
Divisio : Antophyta
Classis : Angiospermae
Ordo : Helobiae
Familia : Potamogetonaceae
Genus : Cymodocea
Species : Cymodocea rotundata
3.
Enhalus acoroides Steud
clip_image002[11]
Regnum : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Classis :Liliopsida
Ordo : Hydrocharitales
Familia :Hydrocharitaceae
Genus : Enhalus
Species :Enhalus acoroides Steud

No
Gambar pada titik 2
Klasifikasi
1.
Enhalus acoroides Steud
clip_image002[13]
Regnum : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Classis :Liliopsida
Ordo : Hydrocharitales
Familia :Hydrocharitaceae
Genus : Enhalus
Species :Enhalus acoroides Steud
2.
Syringodium isoetifolium
clip_image002[15]
Regnum : plantae
Divisi : Anthophyta 
Classis : Angiospermae 
Familia : Potamogetonacea 
Genus : Syringodium 
Species : Syringodium isoetifolium



No
Gambar pada titik 3
Klasifikasi
1.
Cymodocea rotundata
clip_image002[17]
Regnum : Plantae
Divisio : Antophyta
Classis : Angiospermae
Ordo : Helobiae
Familia : Potamogetonaceae
Genus : Cymodocea
Species : Cymodocea rotundata
2.
Cymodocea serrulata
clip_image002[21]
Regnum : Plantae 
Divisio : Magnoliophyta 
Classis : Liliopsida 
Ordo : Potamogetonales 
Familia : Cymodoceaceae 
Genus : Cymodocea 
Species : Cymodocea serrulata




Data pengamatan uji kualitas air di Perairan Tanjung Tiram dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Pengamatan Uji Kualitas Air di Perairan Tanjung Tiram
No.
Kualitas Air
Lokasi

Titik 1
Titik 2
Titik 3

1.
Suhu
33ºC
31ºC
31ºC
2.
Kecerahan
42 cm
55 cm
56 cm


B . Pembahasan
Lamun hidup terendam di perairan laut. Bagian-bagiannya adalah: rhizome, daun (thalus) dan akar. Lamun hidup di lautan yang dangkal dan biasanya menempel pada substrat yang berlumpur, thalusnya tegak berdiri dengan panjang bisa mencapai satu meter (Romimohtarto,2001). Lamun dapat ditemukan di seluruh dunia kecuali di daerah kutub. Lebih dari 52 jenis lamun yang telah ditemukan. Di Indonesia hanya terdapat 7 genus dan sekitar 15 jenis yang termasuk ke dalam 2 famili yaitu Hydrocharitacea ( 9 marga, 35 jenis ) dan Potamogetonaceae (3 marga, 15 jenis). Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kehidupan lamun secara umum adalah kualitas air, substrat dasar perairan. Kualitas air meliputi temperatur, cahaya, salinitas dan nutrien.Temperatur merupakan salah satu faktor ekologi perairan yang sangat penting, karena mempengaruhi proses-proses fisiologis lamun, seperti ketersediaan dan penyerapan, nutrien, respirasi dan siklus protein.

Menurut Romimohtarto (2001). Lamun tidak memiliki stomata tapi memiliki kutikula tipis yang berfungsi untuk menyerap nutrisi dari perairan, semua kegiatan lamun di lakukan dalam keadaan terbenam dalam air, dai system perakarannya hingga daur generatifnya. Tumbuhan ini tersusun dari bagian-bagian yang disebut Rhizome, daun dan akar. Rhizome merupakan batang yang terbenam dan merayap mendatar serta berbuku-buku, dimana pada buku-buku ini tumbuh batang pendek yang dekat ke atas, berdaun dan berbunga serta terdapat juga akar.sistem perkembangbiakanya bersifat khas karena mampu melakukan penyerbukan di dalam air (Nybakken, 1992).

Pengamatan lamun di perairan pantai Tanjung Tiram dilakukan dengan menggunakan plot didalam air dengan meletakkan sebuah plot tersebut didasar laut yang berukuran 1x1 meter. Namun sebelum itu dibuat garis secara horizontal sepanjang 50 m, dimana setiap 10 m nya diamati oleh kelompok yang berbeda-beda. Lamun yang berada pada plot merupakan objek pengamatan pada praktikum ini. Cara pengamatannya yaitu dengan menggunakan snorkel yang berfungsi untuk mempermudah pengamatan Lamun didalam air. Sampel yang berhasil ditemukan disimpan pada botol aqua dan untuk selanjutnya diidentifikasi dilaboratorium. Dimana pada plot pertama untuk titik pertama dijumpai beberapa jenis lamun yang meliputi Cymodocea rotundata, dan Syringodium isoetifolium.

Pengamatan lamun pada titik dua, dilakukan dengan cara yang sama namun tempat plot yang berbeda yaitu dengan menarik garis lurus secara horizontal sepanjang 50 meter dan 50 m ini dibagi 10 m untuk masing-masing keolompok dimana dari garis ini dibuat plot dengan ukuran 1 x 1 meter. Di dalam plot ini terdapat beberapa jenis lamun. Lamun ini kemudian diambil sampelnya dan disimpan di botol aqua kemudian diidentifikasi jenisnya dengan buku identifikasi. Dari pengamatan yang telah dilakukan pada beberapa jenis lamun ini dapat diketahui nama spesiesnya setelah dilakukan pengidentifikasian dengan bantuan buku identifikasi lamun. Dari hasil pengidentifikasian beberapa jenis lamun pada titik dua, diperoleh beberapa spesies lamun yang meliputi Enhalus acoroides Steud dan Syringodium isoetifolium

Pengamatan lamun pada titik tiga juga dilakukan dengan cara yang sama yaitu dengan menarik garis lurus secara horizontal sepanjang 50 meter. Dimana dari garis ini dibuat plot dengan ukuran 1 x 1 meter. Di dalam plot ini terdapat beberapa jenis lamun. Beberapa jenis lamun ini merupakan objek pengamatan. Lamun ini kemudian diambil sampelnya dan mengambil gambarnya. Dari pengamatan yang telah dilakukan pada beberapa jenis lamun ini dapat diketahui nama spesiesnya setelah dilakukan pengidentifikasian dengan bantuan buku identifikasi lamun. Dari hasil pengidentifikasian beberapa jenis lamun pada titik dua, diperoleh beberapa spesies lamun yang meliputi Cymodocea rotundata dan Cymodocea serrulata.

Hasil pengukuran uji kualitas air di Perairan Pantai Tantung Tiram pada titik satu suhunya berada pada 33ºC, pada titik 2 suhunya 31ºC dan pada titik 3 suhu air laut diperoleh 31ºC. Suhu air laut di perairan Pantai Tanjung Tiram dari ketiga titik tersebut masih tergolong normal karena masih berkisar antara 30ºC - 35ºC. Lamun yang hidup pada suhu ini juga keadaannya masih normal karena masih berada pada suhu yang pas untuk habitat dari bento itu sendiri. Untuk pengukuran kecerahan kualitas air pada titik 1 dengan kedalaman 42 cm, pada titik 2 diperoleh kecerahan kualitas air 55 cm dan pada titik ketiga 56 cm, Menurut Sastrawijaya (1991), cahaya matahari tidak dapat menembus dasar perairan jika konsentrasi bahan tersuspensi atau zat terlarut tinggi. Berkurangnya cahaya matahari disebabkan karena banyaknya faktor antara lain adanya bahan yang tidak larut seperti debu, tanah liat maupun mikroorganisme air yang mengakibatkan air menjadi keruh.


V. PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan pada praktikum Identifikasi Jenis Lamun dan Uji Kualitas Air di Perairan Pantai Tanjung Tiram, dapat kita tarik kesimpulan bahwa :
1.      Identifikasi Jenis Lamun, ada beberapa jenis lamun yang hidup di perairan Pantai Tanjung Tiram yaitu Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulat, Syringodium isoetifolium, dan Enhalus acoroides Steud.
2.      Hasil pengukuran uji kualitas air di Perairan Pantai Tantung Tiram pada titik satu suhunya berada pada 33ºC, pada titik 2 suhunya 31ºC dan pada titik 3 suhu air laut diperoleh 31ºC. Suhu air laut di perairan Pantai Tanjung Tiram dari ketiga titik tersebut masih tergolong normal karena masih berkisar antara 30ºC - 35ºC. Lamun yang hidup pada suhu ini juga keadaannya masih normal karena masih berada pada suhu yang pas untuk habitat dari bento itu sendiri. Untuk pengukuran kecerahan kualitas air pada titik 1 dengan kedalaman 42 cm, pada titik 2 diperoleh kecerahan kualitas air 55 cm dan pada titik ketiga 56 cm.

B. Saran
Saran saya pada praktikum Identifikasi Jenis Lamun dan Uji Kualitas Air di Perairan Pantai Tantung Tiram ini yaitu :
1.      Sebaiknya praktikan tidak melakukan kegiatan lain diluar prosedur kerja praktikum sebelum praktikum selesai.
2.      Untuk asisten sudah bagus cara membimbingnya namun kurang mampu untuk mengarahkan praktikannya untuk melakukan suatu pengamatan karena banyaknya praktikan.
3.      Untuk praktikum kedepannya, sebaiknya jumlah asisten ditambah agar tidak kewalahan saat memberi bimbingan pada praktikannya namun kriteria asisten yang direkrut nantinya memenuhi syarat.


DAFTAR PUSTAKA

Rappe, R.A., 2010, Struktur Komunitas Ikan Pada Padang Lamun yang Berbeda Di Pulau Barrang Lompo, J. Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, 2 (2) : 62-73.

Febriyantoro, dkk., 2013, Rekayasa Teknologi Transplantasi Lamun (Enhalus acoroides) di Kawasan Padang Lamun Perairan Prawean Bandengan Jepara, J. Penelitian Kelautan, 1 (1) : 1-10.

Setiawan, F., dkk., 2012, Deteksi Perubahan Padang Lamun Menggunakan Teknologi Penginderaan Jauh dan Kaitannya dengan Kemampuan Menyimpan Karbon di Perairan Teluk Banten, J.Perikanan dan Kelautan, 3 (3) : 275-286.

Kopalit, H., 2011, Struktur Komunitas Padang Lamun di Perairan Manokwari Papua Barat, J. Perikanan dan Kelautan, 7 (1) : 9.

Supriadi., Kaswadji, R. F., Bengen, D. G., Hutomo, M., 2012, Produktivitas Komunitas Lamun di Pulau Barranglompo Makassar., J. Akuatika, 3 (2) : 159-160